Lahir pada November 2013. Sebanyak
21 penulis bergabung di dalamnya meramu karya
masing-masing. Dilihat dari judulnya, antologi ini memang lahir setelah para
penulisnya difasilitasi Balai Soejatmoko dan Sastra Pawon mengandung karya
masing-masing di setiap hari minggu. Karya itu seperti anakmu sendiri, yang kau
kandung dalam “rahimmu” dan kelak akan lahir ke dunia yang kau tuju untuknya. Dan
percayalah, setiap tulisan akan menemukan takdirnya.
Dalam antologi ini, satu cerpen
aku titipkan. “Kopi Hitam Terakhir”. Seakan bercerita tentang filosofi kopi ya?
Apakah iya, isinya bertutur akan hal itu?
Penulis akan mengulasnya dahulu
dimulai dari notes akhir dari Mbak Sanie B. Kuncoro, penulis buku produktif
seperti Kekasih Gelap, Mimpi Bayang
Jingga, Ma Yan, Sayap Cahaya, Melepas Ranting Hati dan Memilikimu.Awalnya
Mbak Sanie memuji bagus cerpen Kopi Hitam
Terakhir ini, tapi lebih baik memang adanya masukan membangun bahkan
kritik-kritik bagi seorang penulis sastra pemula.
To. Tiyas
Menemukan “WESEL CINTA” dalam secangkir kopi......
Sanie B. Kuncoro
16 Maret 2014
Begitulah catatan dari Mbak sanie
di halaman terakhir cerpenku. Lalu, sebetulnya cerpenku dalam antologi Kisah yang Berulang di Hari Minggu ini
berkisah tentang apa sih?
Sedikit picisan memang, karya
yang aku telurkan. “Kopi Hitam Terakhir, bercerita
tentang seorang perempuan yang mencintai laki-lakinya. Tapi Ia sendiri yang
lantas menjodohkan laki-laki yang Ia cintai itu dengan perempuan lain”, kata
Mbak Sanie di sela-sela acara bedah buku ini.
Kopi Hitam Terakhir, menceritakan tokoh pertama “aku” yang
menuliskan sebuah tulisan dalam blognya tentang sebuah kopi hitam terakhir yang
dinikmati di bawah langit senja oleh sepasang kekasih. Kopi Hitam terakhir
bersama senja Solo, sebelum sang kekasih kembali ke kampung halamannya. Hingga
akhir cerita dari tulisan yang diselesaikan oleh tokoh aku tersebut, sang
kekasih tak pernah kembali mengirim pesan akan kedatangannya di tanah yang
sama. Tapi semua itu teranyata hanya sebuah cerita fiksi yang tokoh aku unggah
ke dalam akun blognya.
Kopi hitam terakhir, tokoh “aku”
bersama orang yang tengah Ia sukai dalam balutan nuansa angkringan Jawa. Kopi
hitam terakhir berdua, karena tokoh pertama dalam cerpen Kopi Hitam Terakhir telah merangkai pembenaran atas nama pertemanan
dalam perjalanan yang menyisakkan perpisahan atas nama kebaikan. Sebuah
penantiannya yang disambut jabat tangan terakhir di atas gelas kopi hitam
mereka, untuk mengakhiri seluruh pengharapan.
“Senja di bentang Merbabu. Gunung tampak lebih agung dari tanah ngarai
dataran. Dan senja, senja itu menenangkan. Seperti halnya persahabatan”
Kopi
Hitam Terakhir – Antologi Kisah yang Berulang di Hari Minggu.

0 komentar:
Posting Komentar