Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi

24 Mei 2014

Antologi Kisah yang Berulang di Hari Minggu





Lahir pada November 2013. Sebanyak 21 penulis bergabung di dalamnya meramu karya masing-masing. Dilihat dari judulnya, antologi ini memang lahir setelah para penulisnya difasilitasi Balai Soejatmoko dan Sastra Pawon mengandung karya masing-masing di setiap hari minggu. Karya itu seperti anakmu sendiri, yang kau kandung dalam “rahimmu” dan kelak akan lahir ke dunia yang kau tuju untuknya. Dan percayalah, setiap tulisan akan menemukan takdirnya.
Dalam antologi ini, satu cerpen aku titipkan. “Kopi Hitam Terakhir”. Seakan bercerita tentang filosofi kopi ya? Apakah iya, isinya bertutur akan hal itu?

Penulis akan mengulasnya dahulu dimulai dari notes akhir dari Mbak Sanie B. Kuncoro, penulis buku produktif seperti Kekasih Gelap, Mimpi Bayang Jingga, Ma Yan, Sayap Cahaya, Melepas Ranting Hati dan Memilikimu.Awalnya Mbak Sanie memuji bagus cerpen Kopi Hitam Terakhir ini, tapi lebih baik memang adanya masukan membangun bahkan kritik-kritik bagi seorang penulis sastra pemula.

To. Tiyas



Menemukan “WESEL CINTA” dalam secangkir kopi......




Sanie B. Kuncoro




16 Maret 2014

Begitulah catatan dari Mbak sanie di halaman terakhir cerpenku. Lalu, sebetulnya cerpenku dalam antologi Kisah yang Berulang di Hari Minggu ini berkisah tentang apa sih?
Sedikit picisan memang, karya yang aku telurkan. “Kopi Hitam Terakhir, bercerita tentang seorang perempuan yang mencintai laki-lakinya. Tapi Ia sendiri yang lantas menjodohkan laki-laki yang Ia cintai itu dengan perempuan lain”, kata Mbak Sanie di sela-sela acara bedah buku ini.
Kopi Hitam Terakhir, menceritakan tokoh pertama “aku” yang menuliskan sebuah tulisan dalam blognya tentang sebuah kopi hitam terakhir yang dinikmati di bawah langit senja oleh sepasang kekasih. Kopi Hitam terakhir bersama senja Solo, sebelum sang kekasih kembali ke kampung halamannya. Hingga akhir cerita dari tulisan yang diselesaikan oleh tokoh aku tersebut, sang kekasih tak pernah kembali mengirim pesan akan kedatangannya di tanah yang sama. Tapi semua itu teranyata hanya sebuah cerita fiksi yang tokoh aku unggah ke dalam akun blognya.
Kopi hitam terakhir, tokoh “aku” bersama orang yang tengah Ia sukai dalam balutan nuansa angkringan Jawa. Kopi hitam terakhir berdua, karena tokoh pertama dalam cerpen Kopi Hitam Terakhir telah merangkai pembenaran atas nama pertemanan dalam perjalanan yang menyisakkan perpisahan atas nama kebaikan. Sebuah penantiannya yang disambut jabat tangan terakhir di atas gelas kopi hitam mereka, untuk mengakhiri seluruh pengharapan.

“Senja di bentang Merbabu. Gunung tampak lebih agung dari tanah ngarai dataran. Dan senja, senja itu menenangkan. Seperti halnya persahabatan” 
Kopi Hitam Terakhir – Antologi Kisah yang Berulang di Hari Minggu.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format