Pernah
aku ungkapkan, bahwa kamu lain. Mungkin hanya kamu yang datang dengan cerita
seperti ini. Jawaban santai selalu muncul dari dalam pikirmu, menunjukkan bahwa
laki-laki lebih menggunakan logikanya daripada perasaan. Menunggu waktu
berganti, menunggu kau sampaikan “aku tiba”. Pada titik batas waktu, tak ada
pesan apapun yang ku terima. Dikotomi maya dan nyata bercampur dalam satu cerita.
Halaman
itu masih terjaga menyimpan rapi namamu. Kelak, kau adalah bagian kepingan
hidup yang mampu menguatkan langkah ke depan. Perkenalan denganmu membawaku
berproses pada pendewasaan langkah-langkah hidup.
Kau
adalah sebuah nama, yang kelak akan dibaca oleh orang-orang dalam hidupku. Kau adalah
penyemangat demi sebuah benda mati. Sejenak aku tak mempercayaimu, hingga
namamu tidak berada pada lembar teristimewa. Kau adalah sebuah nama yang mampu
memberikan letupan-letupan kejutan pada langkah masa depan yang ghaib bagi hidupku.
Kamu adalah proses yang tak urung menjadi nyata.
Dalam
ingatan utopia, aku ingin menghabiskan senja solo bersama sebuah nama. Senja
sudah berganti dengan senja yang lain. Nama itu tak jua memperkenalkan diri
dihadapanku. Pada sebuah nama yang aku sendiri tak pernah mengenalnya.