Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi

7 Okt 2012

Perokok Aktif Tirtonadi Masih Belum Taat


Picture from this

* Artikel ini ditulis saat mengikuti test jurnalistik calon reporter Harian Umum Solopos, dan berhasil membawa penulis lolos pada tahap berikutnya. 
Solo (20/10)
“Pak tolong perokok yang masih asyik merokok di luar ruang khusus perokok diarahkan masuk ke smoking area”.
Demikian perintah Sentot selaku Kaur Kamtib UPDT Tirtonadi kepada Waris Staf Kamtib UPDT Tirtonadi kamis siang (20/10) saat ditemui di ruang kerjanya. Kesibukan dalam menjawab setiap pertanyaan dari para calon reporter Harian Umum Solopos tidak mengalihkan perhatiannya pada para pelanggar ketertiban di area Terminal Tirtonadi khususnya di ruang tunggu.

Read more »

Solopos di Mata Pengecer Koran



* Arikel ini ditulis saat mengikuti test jurnalistik calon reporter Harian Umum Solopos, dan berhasil membawa penulis lolos pada tahap berikutnya. 
Sumber gambar: solopos.com

Solo, Senin (19/9/2011) Harian Umum Solopos telah merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 14, layaknya remaja yang tengah menginjak usia yang sama, motivasi mempercantik diri tentunya ada dalam nalurinya. Upaya untuk membesarkan Solopos sebagai koran harian berprestasi tentunya menjadi cita-cita utama bagi segenap jajaran koran harian terkemuka di kota Bengawan ini. Persaingan di industri media massa tentu tidak dilupakan begitu saja.

Read more »

Rekonstruksi “Solo The Spirit of Java"



* Artikel ini masuk 10 nomine Lomba Artikel Solopos-BI 

Ingatkah dalam memori kita, Solo The Spirit of Java, muncul sebagai slogan dalam upaya branding image Soloraya. Pengalaman sejarah mencatat bahwa awal mula slogan ini, muncul dari penyelenggaraan kontes pencipta slogan. Dewan juri dalam kontes tersebut menetapkan slogan ini menjadi upaya brading image yang pada dasarnya tidak hanya diperuntukkan bagi Kota Solo. Seiring waktu berjalan ternyata banyak masyarakat awam baik orang Solo maupun orang luar Solo tidak banyak mengetahui persis apa sebetulnya Solo The Spirit of Java. Banyak orang menganggap Solo The Spirit of Java sebatas slogan sama seperti halnya Yogyakarta yang berbunyi “Jogya Never Ending Asia” dan Jakarta dengan “Enjoy Jakarta”.

Read more »

26 Sep 2012

Melawan Korupsi Waktu



Oleh: Tiyas Nur Haryani

Korupsi itu ternyata adalah termasuk juga hal-hal kecil di sekitar kita. Korupsi itu ternyata sudah kita jumpai sejak kita kecil. Begitulah film Kita vs Korupsi menggambarkan hal-hal tersebut secara jelas. Film pendek yang terakhir berjudul "Pssttt Jangan Bilang Siapa-Siapa!" Tokoh utama dalam film pendek tersebut mengungkap bahwa ternyata ada praktek korupsi yang dilakukan oleh guru dan teman kelasnya. Membeli buku pada guru kelas agar nantinya mendapatkan nilai yang lebih tinggi merupakan praktek korupsi yang ditampilkan dalam film pendek tersebut sebagai upaya edukasi kepada masyarakat luas agar bagaimanapun juga nilai kejujuran adalah hal terbaik yang mesti dibawa tanpa terikat ruang dan waktu. Demi mendapatkan nilai bagus di kelas, kenapa harus terpaksa membeli buku pada guru dengan harga yang lebih mahal dari yang seharusnya? Demi nilai bagus kenapa murid dan/atau orang tua murid harus memberikan ruang bagi penyelenggara pelayanan pendidikan untuk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme? Pendidikan sikap tidak jujur tidaklah pantas diajarkan dalam ruang-ruang pendidikan, hal tersebut untuk menghindari terpatrinya pendidikan korupsi.

Read more »

18 Sep 2012

Drama Tari Matah Ati dan Globalisasi


Gambar: Matah Ati dengan busur panahnya
 Usai Matah Ati selesai, publik masih ramai membicarakannya. Seluk beluk balik panggung, latar belakang para tokoh di belakang layar, hingga persiapan riset sebelum Matah Ati digelar dan sosok Perempuan Mangkunegaran coba dikupas tuntas dalam media. Matah Ati memang nyata spektakuler. Penonton memang banyak yang memuji visual Matah Ati.
Publikasi adalah salah satu kekuatan sebagai iklan dalam memasarkan Matah Ati dan menyebarkan rasa penasaran untuk menyedot publik ramai-ramai mendatangi lokasi pertunjukan Matah Ati yang digelar di Solo 8 – 10 September 2012 di Pamedan Mangkunegaran. Suara Merdeka (12/9) menuliskan bahwa ribuan penonton menjadi saksi panggung Matah Ati. Tidak hanya sebatas dari masyarakat Kota Solo, para artis Ibu Kota juga antusias singgah ke Solo untuk Matah Ati. Bahkan yang telah menonton Matah Ati di  lokasi pementasan Matah Ati di kota lain rela beranjak ke Solo untuk kembali menikmati sajian seni budaya Jawa tersebut. Tak ada yang salah, dengan demikian tradisi dan budaya akan terjaga dikenal oleh masyarakat khususnya kalangan muda. Anak muda dapat kembali akrab mendengar rerasan berbahasa Jawa halus, tembang berbahasa Jawa, tarian khas Jawa yang lemah gemulai dan gamelan Jawa.

Read more »

13 Sep 2012

Menandai Pemutaran Film K vs K: Pendidikan Karakter Melalui Layar





Dewasa ini karakter agent of change bangsa tak urung menunjukkan kondisi yang progresif, kriris moral dan akhlak tengah menjalar pada seluruh lapisan masyarakat. Sangat disayangkan jika generasi masa depan dihadapkan dengan krisis keteladanan. Benang kusut mafia pajak, mafia peradilan, tontotan Angie yang berbohong menjadi konsumsi publik melalui media televisi yang hadir di tiap rumah tangga. Hadirnya media elektronik televisi dan gadget lainnya memang memudahkan kita untuk mengakses informasi. Kehadiran televisi di tiap ruang keluarga mampu mengubah cara edukasi dalam keluarga.

Read more »

29 Agu 2012

Perempuan dan Laki-laki Setara ≠ Adil


Hari ini saya cukup terheran-heran dan tertawa kecil, kala membuka situs email. Ada 2 berita yang muncul di hari ini, yang satu tentang maskulinitas dan satunya tentang feminisme. Feminisme barat, Go Topless Day di New York tengah melakukan aksi “Telanjang Dada Nasional” di ruang publik. Aksi ini sudah dilakukan setiap tahunnya sejak tahun 2007. Feminisme barat menuntut kesetaraan pamer dada dengan melakukan aksi tersebut. 
Mengutip isi berita dari situs email tersebut, menuliskan bahwa muncul kesenjangan, disaat dalam ruang public yang sama para pria yang bertelanjang dada tidak diperhatikan, sedangkan perempuan yang tengah melakukan aksi telanjang dada nasional menarik perhatian masyarakat yang kemudian mengambil foto dan video dengan ponsel mereka. Diskusi saya dengan aktivis perempuan Dewi Candraningrum, dapat menjawab hal tersebut. Menurut Dewi, bahwasanya buah terlarang itu adalah payudara perempuan. bahwasanya selalu vagina dan payudara perempuan yang menjadi dasar utama konsep pornografi. Feminis barat menuntut kesetaraan, meski aksi telanjang dada nasional di barat masih kita tanggapi dengan pro dan kontra.

Read more »

25 Jul 2012

Menakar Generasi Literer

* Dimuat dalam Harian Umum Solopos Edisi 24 Juli 2012 halaman 4


Gagasan SOLOPOS (23/7) dari Bandung Mawardi menyoroti sastra anak di Indonesia dan budaya pop yang lengket pada kehidupan anak-anak kita sekarang. Bandung Mawardi menyebut nasib literasi anak bukti ketidaksanggupan negara mengurusi ketersediaan bahan bacaan dan buku pelajaran untuk anak-anak Indonesia. Sesungguhnya dosa ini tidak semata milik negara hingga akhirnya dunia sastra kita seakan surut di tengah membanjirnya era serba instan dan virtual.
Kita akui bahwa sastra merupakan bekal masa depan generasi penerus kita, di mana sastra sering kali adalah potret budaya dan peradaban bangsa. Dalam buku Pendidikan Karakter Berbasis Sastra karya Rohinah M Noor (2011), dikutip wasiat Umar Bin Khattab kepada rakyatnya, “Ajarilah anak-anakmu sastra karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.”
Minimnya sastra yang hadir di ruang keluarga kita dapat menjadi pemicu degradasi moral agen pelopor kita.
Dewasa ini, karakter agent of change bangsa tak urung menunjukkan kondisi yang progresif, krisis moral dan akhlak tengah menjalar pada seluruh lapisan masyarakat baik tua, muda maupun anak-anak. Degradasi moral warga membuat negeri seakan sedang babak belur dihantam berbagai masalah. Pertanyaan retoris muncul mencari penyebab degradasi moral generasi masa depan bangsa. Terlalu kusut mengurai permasalahan moral generasi kita karena sangat kompleks dan tidak ada penyebab mutlak yang dapat kita tunjukkan pada publik.
Kemudahan dan ketersediaan sumber informasi publik dalam tampilan gadget nyatanya tidak selalu membawa angin segar bagi kehidupan bermasyarakat. Kehadiran televisi di tiap ruang keluarga tersebut mampu mengubah minat baca buku pada anak-anak dewasa ini. Minat baca anak tergerus oleh budaya audio-visual yang menghadirkan tontonan yang serba menghibur. Padahal buku adalah jendela dunia, sastra mampu menjadi sarana dalam mengubah kondisi sosial masyarakatnya.
Mengutip gambaran loncatan masa praliterer langsung pada masa pascaliterasi seperti yang dituliskan oleh Rohinah M Noor (2011) di mana kepedulian orangtua untuk mengajarkan sastra kepada anaknya melalui tradisi mendongeng yang turun-temurun dimiliki negeri ini, kini sudah mulai terkikis. Selain itu, dapat dikatakan generasi sekarang juga tidak mengenal tahap literasi. Hasil penelitian Saleh dkk pada 1995 dan 1996 menunjukkan bahwa sebagian besar orang lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk menonton televisi dibandingkan membaca. Terkikisnya literasi juga terbukti dari hasil penelitian Taufiq Ismail yang dilakukan 1997 hingga 2005 yang menunjukkan kurikulum sastra tidak diperkenalkan saat bangku SMA.
Hasil survei dari The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura pada 2001 mengenai minat baca penduduk menempatkan Indonesia pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Hanya 4.421.739 orang yang mengunjungi perpustakaan dari 33 perpustakaan negeri di Indonesia yang tercatat pada 2008. Bagaimana mungkin anak-anak kita terjun mengenal literasi jika lingkungan mereka tidak begitu gemar baca tulis. Hal tersebut mempengaruhi pendidikan karakter anak negeri ini.
Minimnya generasi literer di negeri ini, dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang hadir dari keluarga sebagai lingkungan primer anak maupun dari negara selaku pemangku kebijakan pendidikan.
Pertama, faktor sejarah diakui mempengaruhi keadaan ini, di mana sejak zaman kerajaan dan kemudian disambung dengan masa penjajahan, kegiatan baca tulis banyak digeluti oleh kaum bangsawan dan borjuis zaman tersebut. Para kawula alit berpeluang sangat kecil untuk memasuki dunia keaksaraan. Tatanan feodal ini demikian mapan sehingga untuk waktu yang lama, wong cilik merasa tidak pantas memasuki dunia baca tulis. Kemudian tradisi tutur sudah membelenggu masyarakat kita. Tradisi itu juga menjadi salah satu sebab mengapa kita belum juga gemar membaca dan menulis. Dalam tradisi ini, peran tulisan dianggap kurang penting.
Kedua, layanan pendidikan yang tidak merata di Indonesia mampu menjadi persoalan minimnya generasi literer bangsa. Ketika sebagian masyarakat Indonesia masih mengalami buta huruf, minat baca tulis tidak mungkin muncul dalam kehidupan bermasyarakat tersebut. Program gemar membaca terutama bagi anak-anak sebagai sebuah budaya,  melalui keluarga, sekolah, pemerintah, media, sulit terwujud jika masih ada penduduk kita yang belum melek literasi atau bahkan belum melek huruf.
Ketiga, kondisi Indonesia sedang terjadi lompatan budaya dari budaya praliterer ke masa pascaliterer tanpa melalui masa literer. Artinya melompat menjadi masyarakat yang senang menonton televisi tanpa melalui budaya gemar membaca.
Keempat, masalah prioritas belanja buku yang masih kalah dibandingkan dengan prioritas belanja pokok yang terus melambung naik dan belanja lain-lain sebagai tuntutan life style kehidupan. Saat ini harga buku melambung tinggi, sangat mahal. Hal itu juga menyebabkan masyarakat enggan membaca. Masalah perekonomian Indonesia juga turut berkontribusi.
Peran serta orangtua dalam berproses bersama anak-anaknya dalam mengenal sastra  diharapkan mampu membekali masa depan generasi penerus kita. Tentu saja bukan bekal untuk mendapatkan kesuksesan materi, melainkan keberhasilan di dalam memperkokoh kepribadiannya. Hingga dipahami, sastra layaknya kawah candradimuka yang bakal menggodok kepribadian manusia sebagai agen perubahan yang syarat pada kebenaran dan kemanusiaan.

Read more »

1 Jul 2012

Di Balik Kemolekan Solo Batik Carnaval 5 (SBC 5)


1341120911120004826
Solo Batik Carnaval 5 saat tampil On The Street di Jl. Slamet Riyadi Surakarta(30/6)

Pergelaran Solo Batik Carnaval merupakan acara tahunan yang sudah dimulai sejak tahun 2008. Event ini merupakan inisiasi dari Pemerintah Kota Surakarta, sebagai upaya branding Kota Solo dikancah pariwisata. SBC 5 (30/6) menawarkan tema metamorfosis. Yang filosofinya adalah dari kain putih kemudian berubah menjadi batik yang cantik.
Tahun ke tahun evaluasi, perhelatan SBC 5 ternyata belum diikuti dengan kedewasaan dari pihak penyelenggara maupun dari para penonotonnya. Pertama, perhelatan SBC 5 kembali dikomersilkan, sama halnya saat perhelatan SBC 4. Hal ini menjadi amat disayangkan, karena karnaval tidak lagi menjadi pesta rakyat. Ada gap yang muncul, antara pemilik uang dan mereka yang tidak mampu dan/atau engggan membeli tiket untuk dapat menyaksikan para peserta Solo Batik Carnaval berlenggak-lenggok dan menari di atas karpet merah. Meski demikian, SBC tetap tidak melupakan rakyat, karnaval jalan di Jl. Slamet Riyadi Solo tetap dilakukan agar rakyat Kota Solo dan sekitarnya tetap bisa menikmati sebagai kecil mewahnya perhelatan SBC 5 indoor, yang memang rombongan karnaval yang melakukan aksi outdoor tidak berbanding lurus dengan besarnya animo masyarakat yang menunggu rombongan karnaval berjalan.
Kedua, edukasi budaya yang sebenarnya menjadi absurd saat SBC hanya mampu menampilkan tata rias dan tata busana yang mampu membuat penontonnya terkesan. Penonton, belum mampu mengenali dimana letak seni batik yang disuguhkan, apalagi ketika SBC dilaksanakan malam hari yang minim penerangan, sehingga motif batik kurang begitu jelas terlihat. Lukisan batik pada kain-kain yang digunakan sebagai bahan dasar busana menjadi kalah menonjol dibanding dengan kemewahan tata busana yang berhasil didesain oleh para peserta. Penonton, pada khususnya masyarakat Kota Solo juga hanya akan mengagumi kemeriahan busana-busana SBC yang ditampilkan, lagi-lagi melewatkan edukasi menyoal macam-macam corak batik yang diproduksi para perajin batik Kota Solo. Berbeda dengan perhelatan SBC jauh diawal sebelum SBC 5, Pemkot Solo juga turut memberikan edukasi budaya terkait ragam corak batik yang diproduksi perajin di Kota Solo.

13411214501916210202
Penonton SBC 5 yang terus mencoba merangsek ke tengah jalan (30/6)




Ketiga, masalah manajemen penonton memang masih menjadi masalah klasik saat event karnaval di gelar, masyarakat masih pada tataran kesadaran naif. Mereka sudah paham betul, bahwa untuk menikmati karnaval yang memuaskan penonton juga harus berlaku tertib dan rapi di tepi jalan menyaksikan karnaval berlenggak-lenggok di sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi yang menjadi area catwalk. Penonton masih saja mencoba merangsek ke tengah, semuanya ingin dekat dengan rombongan karnaval, menggambil gambar, bahkan foto bersama peserta karnaval di tengah berjalannya karnaval. Kondisi demikian mamng belum ditemukan formulasi yang pas dalam mengatur ketertiban penonton karnaval.

1341121670270347765
Sampah yang berserakan di rute karnaval masih menjadi persoalan klasik.




Keempat, hal yang biasa setelah event kota digelar adalah menumpuknya sampah kota. Masyarakat Solo yang memiliki program BERSERI (Bersih Sehat Rapi Indah) belum mampu sadar kritis terkait pengelolaan sampah. Mereka masih terbiasa dan membiasakan diri membuang sampah sembarangan saat menyaksikan karnaval kota. Hal ini harus dirubah, jika memang tidak bisa dilakukan secara masif maka dimulai dari masing-masing individi harus mulai sadar dan mengaplikasikan tindakan nyata menjaga lingkungan. Minimal, saat perhelatan karnaval kota seperti ini, kita harus terbiasa bertindak BERSERI. Jika memang, SBC terus menjadi perhelatan tahunan untuk mendongkrak pariwisata dan edukasi budaya Kota Solo, maka harapan ke depan tentunya tumbuh kedewasaan dari semua pihak untuk mensukseskan event ini.

Kontes Tulisan Tentang Solo
                    

Read more »

29 Jun 2012

Toilet Publik Responsif Gender

* Dimuat dalam Harian Umum Solopos, Edisi 28 Juni 2012 halaman 4

Kota Solo terus-menerus bebenah diri. Secara kasat mata, pembangunan dan pemerataan pelayanan publik selalu diupayakan meningkatLayanan transportasi modern, taman kota yang semakin menjamur dan penyediaan ruang srawung warga seperti city walk dan area car free day dan berbagai event kota menunjukkan geliat perkembangan Kota Solo.
Pencitraan kota dikejar sebagai upaya promosi pariwisata kota. Kota Solo dikembangkan menjadi kota meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) sehingga perlu penyediaan sarana publik yang humanis. Selain masalah moda trasnportasi humanis dan pengembangan kawasan pedestrian, hal terpenting yang seharusnya terjamin yaitu ketersediaannya adalah toilet publik yang nyaman dan aman.
Kota Solo memang kurang memperhatikan kebutuhan toilet publik ini. Secaraa kuantitas dan kualitas, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo belum memberikan perhatian pada penyediaan toilet publik. Faktanya toilet publik merupakan satu hal yang sangat vital namun acapkali terlupakan. Bagi Kota Solo yang dikembangkan menjadi kota budaya, toilet publik adalah kebutuhan mendesak.
Pada Maret-April lalu, Pemkot Solo mengadakan Lomba Desain Toilet Publik dengan tema Solo Ecocultural City: Unik, Portabel dan Fungsional. Ruang terbuka yang ditentukan dalam lomba desain toilet publik ini adalah kawasan Ngarsopuran, Gladak Langen Bogan (Galabo), Taman Kota Monumen 45 Banjarsari dan area city walk. Lomba desain toilet publik yang diadakan oleh Pemkota Solo ini lebih cenderung menitikberatkan pada aspek ecocultural.
Di tengah meningkatnya pemanasan global, saat ini telah banyak kita jumpai konsep dengan sebutan eco di awal kalimatnya. Ecocultural merupakan konsep pengembangan kota yang berbasis nuansa budaya yang ramah lingkungan. Hal tersebut dirasa tepat sekali diterapkan dalam pembangunan tata ruang Kota Solo yang memiliki slogan Tri Krida Utama Kota Solo, yaitu sebagai kota budaya, kota pariwisata dan kota olahraga. Dalam pelaksanaannya ditunjang dengan program Solo Berseri (bersih, sehat, rapi dan indah) yang dibingkai dalam slogan Solo The Spirit of Java.
Kesuksesan penyelamatan lingkungan hidup membutuhkan upaya bersama dan simultan dari seluruh elemen masyarakat (organisasi dan individu) maupun pemerintah dengan pelibatan semua instansi terkait. Lomba desain toilet publik di Kota Solo yang diselenggarakan oleh Dinas Tata Ruang Kota mampu menjembatani pemerintah dan masyarakat dalam sinergi dan membangun jaringan kerja mewujudkan fasilitas publik yan nyaman dan aman.
Inisiatif ini menjadi sarana untuk membumikan gaya hidup masyarakat yang mampu berperan menjaga keseimbangan dan keamanan ekologi sehingga tercipta sistem kehidupan yang sehat. Harapannya, hasil lomba ini adalah pengadaan toilet publik yang berperspektif health and green life yang mampu mendukung upaya mengurangi pencemaran lingkungan dan menciptakan sanitasi yang baik. Penyediaan toilet publik ini mampu menghindarkan masyarakat dari kebiasan buruk membuang air kecil (urinate) sembarangan di ruang terbuka. Adakah yang terlupakan dalam penyediaan sarana publik satu ini?

Kebutuhan Sasaran
Kebijakan dengan sasaran publik seharusnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sasaran itu sendiri. Pembangunan toilet publik takkan menyentuh sasaran secara optimal jika hanya memperhatikan aspek kebudayaan dan lingkungan. Aksesibilitas dari semua pihak harus menjadi pertimbangan ketika Pemkot Solo hendak merealisasikan pembangunan toilet publik. Aspek responsif gender sering terlupakan dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan publik. Pembangunan toilet publik seharusnya mengutanakan visi responsif gender ini karena pengarusutamaan gender telah menjadi salah satu dasar politik pembangunan di Kota Solo.
Menyoal gender tidak berarti kita hanya membahas perempuan dan memperjuangkan kaum perempuan. Gender tidak semata-mata tentang laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga anak laki-laki dan perempuan, orang-orang lanjut usia atau kelompok orang-orang yang mempunyai kebiasaan yang berbeda, kalangan penyandang cacat atau difabel dan juga orang-orang yang mempunyai tingkat ekonomi yang kurang mampu.
Responsif gender berarti memperhatikan kebutuhan setiap kelompok. Kebijakan responsif gender merupakan alat untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Adil berarti sesuai kebutuhan masing-masing kelompok. Implementasi kebijakan responsif gender dari segi bangunan salah satunya dapat diimplementasikan dalam pengadaan toilet publik. Hal kecil pertama yang secara riil dapat diimplementasikan yaitu dengan menempatkan toilet perempuan dan laki-laki secara terpisah.
Karya peserta lomba desain toilet publik yang dipamerkan di Balai Soejatmoko Solo menunjukkan para peserta lomba berhasil menawarkan konsep yang mengedepankan aspek budaya dan lingkungan. Namun, beberapa di antara desain-desain yang dilombakan itu ada yang belum memperhatikan persoalan gender. Ada desain yang hanya berupa satu ruang toilet untuk laki-laki dan perempuan.
Pengadaan toilet untuk perempuan yang lebih banyak secara kuantitas menjadi titik poin berikutnya bagi toilet yang responsif gender. Kebutuhan laki-laki dan perempuan terkait toilet memang berbeda. Perempuan yang dalam masa menstruasi membutuhkan waktu yang lebih lama di dalam toilet. Kamar toilet perempuan yang lebih banyak bertujuan untuk mengatasi jumlah antrean di luar.
Fasilitas toilet publik memang merupakan fasilitas yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan membuang hajat yang bisa digunakan oleh masyarakat umum tanpa membedakan usia dan jenis kelamin. Jika melihat dengan kacamata gender yang merupakan hasil konstruksi sosial, definisi fasilitas toilet publik yang demikian semestinya bisa didefinisikan ulang. Dari sisi  kebutuhan jelas ada perbedaan dalam penggunaan toilet antara laki-laki, perempuan, kaum difabel, anak kecil dan kalangan orang lanjut usia (lansia) sehingga pembangunan fisik toiletnya perlu dibedakan untuk mengakomodasi kebutuhan mereka.
Harus terbangun kesadaran kritis untuk mengelola lingkungan hidup oleh semua pihak dan pemerataan pelayanan umum bagi semua pihak, sekaligus mulai belajar untuk membangun kesadaran kolektif dalam merawat lingkungan dan perencanaan pembangunan tidak sekadar merespons perkembangan kota secara seremonial. Masyarakat, pemerintah dan/atau dunia usaha diharapkan memperhatikan pilihan-pilihan kebijakan dalam rangka mengatasi kerentanan pada alam dan lingkungan sosial untuk mendukung kehidupan dan penghidupan yang berkelanjutan. Penyediaan toilet publik yang berpihak pada pelestarian lingkungan dan responsif gender jelas selaras dengan hal ini.

Read more »

15 Jun 2012

Pagi..


Picture from this

Sapaan pada embun kala pagi hadir, rasanya aku sudah lupa bagaimana itu disaat kawan-kawan banyak yang bertutur tentang senja, yang hanya tumpukan waktu yang mulai menggelap dengan sedikit kecantikannya yang elok. Lama tak ku dapati sajak yang bercerita pagi.
Dulu, langkah kaki kecil itu keluar bersama embun, masih  ia dapati hamparan lahan yang diisi rumput hijau dan sedikit kabut di atasnya. Tembok besar kini menjulang, tak ada lagi kabut pagi, tak lagi ku rasakan sapaan pada embun. Kendaraan roda besi itu kini melaju semakin kencang, mengejar nafas kehidupan entah deru kecukupan. Emisinya membuat langit kota tak seramah dulu.

Read more »

5 Mei 2012

Pada Sebuah Nama

Pernah aku ungkapkan, bahwa kamu lain. Mungkin hanya kamu yang datang dengan cerita seperti ini. Jawaban santai selalu muncul dari dalam pikirmu, menunjukkan bahwa laki-laki lebih menggunakan logikanya daripada perasaan. Menunggu waktu berganti, menunggu kau sampaikan “aku tiba”. Pada titik batas waktu, tak ada pesan apapun yang ku terima. Dikotomi maya dan nyata bercampur dalam satu cerita.
Halaman itu masih terjaga menyimpan rapi namamu. Kelak, kau adalah bagian kepingan hidup yang mampu menguatkan langkah ke depan. Perkenalan denganmu membawaku berproses pada pendewasaan langkah-langkah hidup.
Kau adalah sebuah nama, yang kelak akan dibaca oleh orang-orang dalam hidupku. Kau adalah penyemangat demi sebuah benda mati. Sejenak aku tak mempercayaimu, hingga namamu tidak berada pada lembar teristimewa. Kau adalah sebuah nama yang mampu memberikan letupan-letupan kejutan pada langkah masa depan yang ghaib bagi hidupku. Kamu adalah proses yang tak urung menjadi nyata.
Dalam ingatan utopia, aku ingin menghabiskan senja solo bersama sebuah nama. Senja sudah berganti dengan senja yang lain. Nama itu tak jua memperkenalkan diri dihadapanku. Pada sebuah nama yang aku sendiri tak pernah mengenalnya.

Read more »

11 Apr 2012

Hallyu Menantang Indonesia

* Dimuat dalam Harian Umum Solopos, Edisi 10 April 2012 halaman 4

Istilah hallyu tidak asing lagi bagi para penikmat K-Pop (budaya populer asal Korea Selatan). Hallyu atau gelombang budaya dari Korea Selatan (dalam tulisan ini selanjutnya disebut Korea saja) sangat terasa di kehidupan generasi muda saat ini. Anak muda di negeri ini seakan terhipnotis oleh K-Pop. Secara instan menjamur boyband dan girlband Indonesia di panggung-panggung hiburan.
Salah satu bukti anak muda Indonesia terjangkit K-Pop, dengan dibanjirinya antrean penjualan tiket konser boyband asal Korea, Super Junior, oleh anak muda kita yang dikabarkan tiket sudah ludes terjual (7/4/2012). Lidah para remaja lincah melafalkan bahasa Korea dari setiap lirik lagu K-Pop.
Akibatnya banyak remaja berminat belajar bahasa Korea secara intensif. Fashion dan penampilan gaya Korea memiliki banyak pengikut di Indonesia. Gelombang Korea di Indonesia diawali masuknya berbagai drama Korea di layar televisi tiap rumah tangga.
Namun, yang paling terasa ledakannya adalah keberadaan boyband dan girlband Korea yang mampu meneguhkan budaya mereka bersama arus globalisasi. Musik sarat akan budaya populer. Musik menjadi sesuatu yang disukai banyak orang.
Pertunjukan musik memang bisa disinergikan dengan turisme. Oleh karena itu, musik Korea mampu menjadi aset bersifat kebudayaan maupun komersial.

Soft Power
Gelombang K-Pop di dunia tidak terlepas dari  dukungan pemerintah Korea Selatan. Komitmen tinggi tidak hanya dari industri musik Korea saja. Mereka menggandeng pemerintah dalam penggarapannya. Sejak 20 tahun lalu, rancangan Korea di masa depan agar mendunia dilakukan dengan mengandalkan budaya yang mereka miliki sebagai senjata.
Di tingkat kebijakan publik, untuk memajukan pasar musiknya di tingkat global Korea Selatan mengambil kebijakan antibarat. Pemerintah melarang musik asing dan dikembangkanlah musik yang harus mencerminkan identitas nasional.
Didukung akarnya yang kuat, ditunjang oleh manajemen yang baik dan dukungan pemerintah, Korea berhasil menapaki industri musik dunia. Ini tentu berasal dari kerja keras dan kecerdasan membaca pasar.
Korea memang sedang menjadi tren entertainment, dalam hal ini K-Pop. Budaya populer Korea seakan menjadi soft power bagi negara Korea Selatan. Bersandar pada K-Pop, Korea melakukan inflitrasi budaya di berbagai negara. Dalam konsep hubungan internasional, kekuasaan lunak mencakup pengaruh budaya seperti demam K-Pop saat ini.
Konsep soft power diperkenalkan oleh Joseph Nye dari Harvard University, yaitu penonjolan cara-cara nonmiliter dalam memengaruhi negara lain atau memoles citra melalui kekuatan politik, ekonomi dan kebudayaan. Infiltrasi dilakukan bukan dengan pemaksaan, ancaman maupun kekuatan militer.
Dukungan arus globalisasi mampu menekuk dunia yang luas dalam satu lipatan, dan serangan soft power Korea lewat K-Pop tak mampu ditolak begitu saja oleh dunia Internasional. Dengan musik yang merupakan wujud industri kreatif, Korea bisa menjual 13 sektor industri kreatif lainnya di Indonesia dan di  beberapa negara Asia.
Pedoman Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia yang diterbitkan Kementerian Perdagangan menyatakan ada 14 subsektor industri kreatif, yaitu periklanan, penerbitan dan percetakan, TV dan radio, film, video dan fotografi, musik, seni pertunjukan, arsitektur, desain, fashion, kerajinan, pasar barang seni, permainan interaktif, layanan komputer dan piranti lunak serta penelitian dan pengembangan, serta rencana penambahan subsektor kuliner.
Musik K-Pop dengan penampilan artisnya membawa efek domino bagi perekonomian Korea. Situs kompas.com (15/1/2012) memberitakan saat ini sederet butik kosmetik Korea merangsek masuk ke Indonesia, toko roti dan jaringan hypermarket Korea mulai tumbuh di Jakarta, produk otomotif dan gadget Korea mulai mengepung kehidupan kita.
Bahkan, “kampung” Korea juga tumbuh lengkap dengan fasilitas seperti bank, klinik, salon, restoran, hotel, tempat indekos, supermarket dan toko perlengkapan golf Korea di Jalan Senayan, Jakarta, serta Ruko Pinangsia Office Park, Karawaci, Banten. Berdasarkan data Pusat Kebudayaan Korea di Indonesia, saat ini ada 1.300 kantor cabang perusahaan Korea yang didirikan di Indonesia.

Potensi Indonesia
Bukankah Indonesia memiliki potensi untuk terjun dalam ranah budaya populer seperti yang dilakukan Korea? Tinggal bagaimana dukungan pemerintah kita dan manajemen industri musik menyulap industri kreatif Indonesia. Karakter identitas budaya Indonesia yang seharusnya mendarah daging pada para pemuda menjadi pekerjaan rumah tersendiri dalam rangka meluncurkan soft power Indonesia di karpet internasional.
Dunia hiburan kita masih belum maksimal menjadi soft power baru dalam pergaulan negara-negara di dunia selama kita masih mengecap budaya latah dan menjadi imitasi hasil infiltrasi negara lain. Mengikuti penambang lain yang sudah lebih dahulu mengenal medan merupakan perkara logis. Tidak salah jika kaum muda Indonesia berkeinginan fokus pada hal yang serupa dengan K-Pop.
Kita harus mulai bangkit dengan kemungkinan mendapatkan emas yang lebih besar dibandingkan yang diperoleh penambang sebelumnya. Meminjam pendekatan pemasaran, diferensiasi menjadi faktor unik dan nilai tambah untuk menarik perhatian konsumen industri kreatif Indonesia. Mengutip dimensi diferensiasi dari Hermawan Kartajaya, jika anak bangsa ingin populer layaknya boyband dan girlband Korea, mereka perlu memenuhi dimensi konteks, konten dan infrastruktur.
Pertama, dari sisi konten industri musik harus mampu menawarkan bagian tangible produk musiknya seperti gaya ketimuran yang patut kita bawa ke kancah internasional. Kedua, sisi konteks menawarkan nilai pada para penikmat produk budaya Indonesia.
Penyelenggaraan festival Indonesia di beberapa negara dengan menyajikan pertunjukan seni budaya, kuliner, serta berbagai produk/barang Indonesia yang dijual dapat membangun komunitas penikmat budaya Indonesia yang loyal. Ketiga, sisi insfratruktur menunjuk pada kapabilitas sumber daya manusianya.

Read more »

4 Mar 2012

Pemenuhan Kebutuhan Gender dalam Kesehatan Reproduksi Ibu Hamil

Perawatan kesehatan primer menitikberatkan kehamilan dan persalinan yang aman. Kesehatan ibu yang berkualitas sangat menentukan pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk menjawab permasalah tersebut perlu diupayakan kebijakan yang memilki daya ungkit besar dan dilaksanakan dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di masyarakat itu sendiri. Untuk itu digalakkan Gerakan Sayang Ibu (GSI) yang memperkecil kendala dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Gerakan Sayang Ibu (GSI) dirumuskan menjadi semacam gerakan yang dilaksanakan dalam upaya membantu salah satu program pemerintah untuk peningkatan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang berdampak terhadap upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) karena hamil, melahirkan dan nifas. Gerakan Sayang Ibu merupakan modifikasi dan reaktualisasi dari Gerakan Kesejahteraan Ibu yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 29 Juni 1988 dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu secara keseluruhan, termasuk kualitas hidup dan status wanita di Indonesia. Tujuan utama dari Gerakan Kesejahteraan Ibu tersebut adalah menurunkan jumlah kematian ibu secara nyata dan memastikan setiap ibu di Indonesia mendapat kesempatan untuk melahirkan bayi sehat dan selamat (Depkes RI, 1995 dalam Budianto, 2006: 5).
Gerakan Sayang Ibu (GSI) melibatkan beberapa komponen sebagai pelaku programnya. Pertama adalah melihat responsivitas ibu hamil pada terhadap kesehatan kandungannya sendiri, dalam GIS para ibu hamil diharuskan untuk memeriksaan kehamilan minimal 4 kali; mengetahui dan mengenali kelainan kehamilan, tahu cara pencegahan dan penanggulangannya; mengupayakan persalinan di tempat/fasilitas kesehatan yang memadai; dan mengetahui kebutuhan gizi yang diperlukan; serta mampu mengambil keputusan. Kedua, adalah faktor suami dimana suami dan keluarga lain memberikan perhatian lebih kepada istri/ibu hamil dan selalu SIAGA (Siap, Antar, Jaga), mengenali kelainan kehamilan sedini mungkin dan segera membawanya ke fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai; dan mempratekkan kesetaraan keadilan gender serta tidak ada kekerasan dalam rumah tangga.
Pada dasarnya dua hal di atas tersebut merupakan variabel utama dalam kesuksesan GIS demi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan/atau upaya mewujudkan kehamilan ibu yang sehat demi generasi penerus bangsa yang sehat pula disamping variabel organisasi kemasyarakatan dalam hal ini adalah para kader GIS di masyrakat dan petugas kesehatan. Faktor-faktor penyebab masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI), pada dasarnya dapat disebabakan karena banyak masalah sosial yang terkait dengan kesejahteraan perempuan bermuara pada kultur patriaki. Secara tidak langsung posisi sosial perempuan yang masih mengalami subordinasi di masyarakat, memberikan sumbangan dalam kesehatan reproduksi ibu. Di banyak masyarakat dunia sudah lazim bagi perempuan dan anak perempuan makan setelah laki-laki dan anak laki-laki, sekalipun perempuan sedang hamil dan menyusui. Hal tersebut menyebabkan mereka kekurangan makan, yang menjurus kepada anemia dan kekurangan gizi. Masalah-masalah tadi bermuara dari ketidakadilan dan ketimpangan gender di masyarakat.
Oleh karena itu, sebuah gerakan yang berangkat dari lini keluarga dalam menjaga kesehatan kehamilan ibu harus mengakar di masyarakat kita. Pemenuhan kebutuhan gender dalam hal ini dapat dibagi menjadi kebutuhan strategis gender dan kebutuhan praktis gender. GSI telah berhasil mengembangkan kebutuhan gender yang dominan bersifat praktis gender di masyarakat, seperti masalah pemeriksaan kehamilan, pemenuhan gizi ibu hamil, persiapan persalinan ibu hamil dimulai dari biaya, persiapan transportasi, pemilihan tempat persalinan dan persiapan donor darah bagi ibu bersalin. Di sisi lain, kebutuhan strategis gender masih perlu digalakkan seperti pemahaman pentingnya perencanaan kehamilan demi menjaga keselamatan bayi yang dikandung dan ibunya, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga demi kesehatan mental dan fisik ibu hamil serta janin dalam kandungannya, dan pembagian peran gender karena sesungguhnya kehamilan bukanlah tanggungjawab dari perempuan semata dan tidak ada pandangan bahwa kehamilan merupakan “bagian yang alami” karena menjadi perempuan. Dengan demikian, kesehatan ibu terutama kesehatan reproduksinya dapat dijaga demi kelahiran generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas.

Read more »

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format