* Dimuat dalam Harian Umum Solopos, Edisi 10 April 2012 halaman 4
Istilah hallyu tidak asing lagi bagi para penikmat K-Pop (budaya populer asal Korea Selatan). Hallyu
atau gelombang budaya dari Korea Selatan (dalam tulisan ini selanjutnya
disebut Korea saja) sangat terasa di kehidupan generasi muda saat ini.
Anak muda di negeri ini seakan terhipnotis oleh K-Pop. Secara instan
menjamur boyband dan girlband Indonesia di panggung-panggung hiburan.
Salah satu bukti anak muda Indonesia terjangkit K-Pop, dengan dibanjirinya antrean penjualan tiket konser boyband
asal Korea, Super Junior, oleh anak muda kita yang dikabarkan tiket
sudah ludes terjual (7/4/2012). Lidah para remaja lincah melafalkan
bahasa Korea dari setiap lirik lagu K-Pop.
Akibatnya banyak remaja berminat belajar bahasa Korea secara intensif. Fashion
dan penampilan gaya Korea memiliki banyak pengikut di Indonesia.
Gelombang Korea di Indonesia diawali masuknya berbagai drama Korea di
layar televisi tiap rumah tangga.
Namun, yang paling terasa ledakannya adalah keberadaan boyband dan
girlband Korea yang mampu meneguhkan budaya mereka bersama arus
globalisasi. Musik sarat akan budaya populer. Musik menjadi sesuatu yang
disukai banyak orang.
Pertunjukan musik memang bisa disinergikan dengan turisme. Oleh
karena itu, musik Korea mampu menjadi aset bersifat kebudayaan maupun
komersial.
Soft Power
Gelombang K-Pop di dunia tidak terlepas dari dukungan pemerintah
Korea Selatan. Komitmen tinggi tidak hanya dari industri musik Korea
saja. Mereka menggandeng pemerintah dalam penggarapannya. Sejak 20 tahun
lalu, rancangan Korea di masa depan agar mendunia dilakukan dengan
mengandalkan budaya yang mereka miliki sebagai senjata.
Di tingkat kebijakan publik, untuk memajukan pasar musiknya di
tingkat global Korea Selatan mengambil kebijakan antibarat. Pemerintah
melarang musik asing dan dikembangkanlah musik yang harus mencerminkan
identitas nasional.
Didukung akarnya yang kuat, ditunjang oleh manajemen yang baik dan
dukungan pemerintah, Korea berhasil menapaki industri musik dunia. Ini
tentu berasal dari kerja keras dan kecerdasan membaca pasar.
Korea memang sedang menjadi tren entertainment, dalam hal ini K-Pop. Budaya populer Korea seakan menjadi soft power
bagi negara Korea Selatan. Bersandar pada K-Pop, Korea melakukan
inflitrasi budaya di berbagai negara. Dalam konsep hubungan
internasional, kekuasaan lunak mencakup pengaruh budaya seperti demam
K-Pop saat ini.
Konsep soft power diperkenalkan oleh Joseph Nye dari Harvard
University, yaitu penonjolan cara-cara nonmiliter dalam memengaruhi
negara lain atau memoles citra melalui kekuatan politik, ekonomi dan
kebudayaan. Infiltrasi dilakukan bukan dengan pemaksaan, ancaman maupun
kekuatan militer.
Dukungan arus globalisasi mampu menekuk dunia yang luas dalam satu lipatan, dan serangan soft power
Korea lewat K-Pop tak mampu ditolak begitu saja oleh dunia
Internasional. Dengan musik yang merupakan wujud industri kreatif, Korea
bisa menjual 13 sektor industri kreatif lainnya di Indonesia dan di
beberapa negara Asia.
Pedoman Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia yang
diterbitkan Kementerian Perdagangan menyatakan ada 14 subsektor industri
kreatif, yaitu periklanan, penerbitan dan percetakan, TV dan radio,
film, video dan fotografi, musik, seni pertunjukan, arsitektur, desain, fashion,
kerajinan, pasar barang seni, permainan interaktif, layanan komputer
dan piranti lunak serta penelitian dan pengembangan, serta rencana
penambahan subsektor kuliner.
Musik K-Pop dengan penampilan artisnya membawa efek domino bagi perekonomian Korea. Situs kompas.com (15/1/2012) memberitakan saat ini sederet butik kosmetik Korea merangsek masuk ke Indonesia, toko roti dan jaringan hypermarket Korea mulai tumbuh di Jakarta, produk otomotif dan gadget Korea mulai mengepung kehidupan kita.
Bahkan, “kampung” Korea juga tumbuh lengkap dengan fasilitas seperti
bank, klinik, salon, restoran, hotel, tempat indekos, supermarket dan
toko perlengkapan golf Korea di Jalan Senayan, Jakarta, serta Ruko
Pinangsia Office Park, Karawaci, Banten. Berdasarkan data Pusat
Kebudayaan Korea di Indonesia, saat ini ada 1.300 kantor cabang
perusahaan Korea yang didirikan di Indonesia.
Potensi Indonesia
Bukankah Indonesia memiliki potensi untuk terjun dalam ranah budaya
populer seperti yang dilakukan Korea? Tinggal bagaimana dukungan
pemerintah kita dan manajemen industri musik menyulap industri kreatif
Indonesia. Karakter identitas budaya Indonesia yang seharusnya mendarah
daging pada para pemuda menjadi pekerjaan rumah tersendiri dalam rangka
meluncurkan soft power Indonesia di karpet internasional.
Dunia hiburan kita masih belum maksimal menjadi soft power
baru dalam pergaulan negara-negara di dunia selama kita masih mengecap
budaya latah dan menjadi imitasi hasil infiltrasi negara lain. Mengikuti
penambang lain yang sudah lebih dahulu mengenal medan merupakan perkara
logis. Tidak salah jika kaum muda Indonesia berkeinginan fokus pada hal
yang serupa dengan K-Pop.
Kita harus mulai bangkit dengan kemungkinan mendapatkan emas yang
lebih besar dibandingkan yang diperoleh penambang sebelumnya. Meminjam
pendekatan pemasaran, diferensiasi menjadi faktor unik dan nilai tambah
untuk menarik perhatian konsumen industri kreatif Indonesia. Mengutip
dimensi diferensiasi dari Hermawan Kartajaya, jika anak bangsa ingin
populer layaknya boyband dan girlband Korea, mereka perlu memenuhi dimensi konteks, konten dan infrastruktur.
Pertama, dari sisi konten industri musik harus mampu menawarkan bagian tangible produk musiknya seperti gaya ketimuran yang patut kita bawa ke kancah internasional. Kedua, sisi konteks menawarkan nilai pada para penikmat produk budaya Indonesia.
Penyelenggaraan festival Indonesia di beberapa negara dengan
menyajikan pertunjukan seni budaya, kuliner, serta berbagai
produk/barang Indonesia yang dijual dapat membangun komunitas penikmat
budaya Indonesia yang loyal. Ketiga, sisi insfratruktur menunjuk pada kapabilitas sumber daya manusianya.
Read more »