Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi

18 Sep 2012

Drama Tari Matah Ati dan Globalisasi


Gambar: Matah Ati dengan busur panahnya
 Usai Matah Ati selesai, publik masih ramai membicarakannya. Seluk beluk balik panggung, latar belakang para tokoh di belakang layar, hingga persiapan riset sebelum Matah Ati digelar dan sosok Perempuan Mangkunegaran coba dikupas tuntas dalam media. Matah Ati memang nyata spektakuler. Penonton memang banyak yang memuji visual Matah Ati.
Publikasi adalah salah satu kekuatan sebagai iklan dalam memasarkan Matah Ati dan menyebarkan rasa penasaran untuk menyedot publik ramai-ramai mendatangi lokasi pertunjukan Matah Ati yang digelar di Solo 8 – 10 September 2012 di Pamedan Mangkunegaran. Suara Merdeka (12/9) menuliskan bahwa ribuan penonton menjadi saksi panggung Matah Ati. Tidak hanya sebatas dari masyarakat Kota Solo, para artis Ibu Kota juga antusias singgah ke Solo untuk Matah Ati. Bahkan yang telah menonton Matah Ati di  lokasi pementasan Matah Ati di kota lain rela beranjak ke Solo untuk kembali menikmati sajian seni budaya Jawa tersebut. Tak ada yang salah, dengan demikian tradisi dan budaya akan terjaga dikenal oleh masyarakat khususnya kalangan muda. Anak muda dapat kembali akrab mendengar rerasan berbahasa Jawa halus, tembang berbahasa Jawa, tarian khas Jawa yang lemah gemulai dan gamelan Jawa.

Penonton kelas festival rela antri menyemut saat hendak memasuki area panggung Matah Ati. Antusiasme warga berada dalam posisi garis lurus dengan panggung Matah Ati yang besar dan megah dalam tata lampu maupun panggungnya. Alur cerita drama yang ditampilkan memang cukup sulit dipahami oleh masyarakat awam, hal itu dapat dikarenakan sajian pentas drama dibawakan dalam tembang dengan Bahasa Jawa alus. Edukasi sejarah yang diangkat dari kisah nyata drama tari Matah Ati masih belum maksimal bisa dicerna oleh masyakarat karena minimnya pengayaan budaya milik sendiri. Perilaku konsumtif dapat saja muncul dibalik membudlaknya antuasiame penonton Matah Ati.

Globalisasi dan Adol Umuk
Megahnya pementasan Drama Tari Matah Ati di Pamedan Mangkunegaran Surakarta (8/9)
Kebutuhan akan life style dapat saja muncul pada ribuan penonton Matah Ati. Ulasan terakhir dari Suara Merdeka (13/9) terkait Matah ati menyebutkan bahwa rasa penasaran masyarakat terhadap Matah Ati dapat menggeser dari nilai edukasi tradisi kepada rasa gengsi. Cara-cara penyikapan yang demikian tidak begitu disadari muncul dan khasanah Jawa menyebutnya “adol umuk”.
Matah Ati memang merupakan karya besar anak negeri. Masyarakat patut mengapresiasi pergelaran ini, namun yang perlu menjadi catatan penting adalah tidak sekedar mengapreasiasi kemegahan panggung, sejarah yang syarat tradisi perlu untuk dibawa mendarah daging. Usai Matah Ati berlalu di Kota Surakarta, masyarakat hendaknya sadar memiliki budaya-budaya kesenian yang telah disajikan Matah Ati dengan kemasan mendunia. Masyarakat jangan sampai lupa bahwa kita memiliki budaya kesenian yang bernilai mahal. Sisi tradisi dan budaya yang telah dibawa dalam Matah Ati, patutnya kita turunkan pada generasi penerus dengan spontanitas agar anak-anak kita mampu mengenal kesenian, tradisi dan sejarah. Jangan sampai anak-anak merasa asing kala mereka bertemu dengan pertujukan kesenian budaya di kesempatan mendatang. 
Jangan sampai pula sikap-sikap yang dibawa oleh globalisasi menumpang dalam diri penonton yang hadir antuasis dalam pergelaran Matah Ati. Nilai hedonisme harus patutnya sudah hilang kala masyarakat ramai-ramai memberikan tepuk tangan pada panggung Matah Ati. Pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan dalam kemewahan pertunjukan Matah Ati bukanlah sebagai tujuan utama. Pelestarian nilai budaya adalah edukasi terpenting dari Matah Ati yang tidak boleh dilupakan para penonton ke depannya.
Penonton konsumtif tidak perlu muncul diantara pasang mata yang menyaksikan Matah Ati. Masyarakat jangan sampai rela konsumtif mengocek uang ratusan ribu demi memenuhi hasratnya dan agar bisa adol umuk kepada anggota masyarakat lainnya. Seperti perburuan akan fashion terbaru, jam tangan merek ternama, sepatu, dan kali ini berlomba-lomba menonton pertunjukan spektakuler mengikuti prestise akan menjadi salah satu saksi bisu budaya hedonis ini. 
Pada akhirnya hal tersebut mampu mempengaruhi konsumsi publik. Pertunjukan Matah Ati bukan semata menghadirkan kesenangan dan kenikmatan visual bagi kalangan hedonis di masa globalisasi. Kekayaan pengetahuan pada Bahasa Jawa, seni musik gamelan, seni tarian Jawa menjadi pekerjaan rumah bersama kita. Generasi penerus membutuhkan edukasi budaya dan nilai tradisi tersebut sehingga dapat tercipta sense of belonging  pada diri mereka. Rasa jet lag tak perlu muncul ketika generasi masa depan mendapati sajian budaya tradisi di lingkungan mereka kelak. Utamanya dalam Bahasa Jawa, pendidikan Bahasa Jawa perlu untuk digalakkan. Masyarakat Jawa jangan sampai hilang Jawanya. 


Kontes Tulisan Tentang Solo
                    

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format