![]() |
| Gambar: Matah Ati dengan busur panahnya |
Usai Matah Ati selesai, publik masih ramai membicarakannya. Seluk beluk balik
panggung, latar belakang para tokoh di belakang layar, hingga persiapan riset
sebelum Matah Ati digelar dan sosok Perempuan Mangkunegaran coba dikupas tuntas
dalam media. Matah Ati memang nyata spektakuler. Penonton memang banyak yang
memuji visual Matah Ati.
Publikasi adalah salah satu kekuatan sebagai iklan
dalam memasarkan Matah Ati dan menyebarkan rasa penasaran untuk menyedot publik
ramai-ramai mendatangi lokasi pertunjukan Matah Ati yang digelar di Solo 8 – 10
September 2012 di Pamedan Mangkunegaran. Suara Merdeka (12/9) menuliskan bahwa
ribuan penonton menjadi saksi panggung Matah Ati. Tidak hanya sebatas dari
masyarakat Kota Solo, para artis Ibu Kota juga antusias singgah ke Solo untuk
Matah Ati. Bahkan yang telah menonton Matah Ati di lokasi pementasan Matah Ati di kota lain rela
beranjak ke Solo untuk kembali menikmati sajian seni budaya Jawa tersebut. Tak
ada yang salah, dengan demikian tradisi dan budaya akan terjaga dikenal oleh masyarakat
khususnya kalangan muda. Anak muda dapat kembali akrab mendengar rerasan
berbahasa Jawa halus, tembang berbahasa Jawa, tarian khas Jawa yang lemah
gemulai dan gamelan Jawa.
Penonton kelas festival
rela antri menyemut saat hendak memasuki area panggung Matah Ati. Antusiasme
warga berada dalam posisi garis lurus dengan panggung Matah Ati yang besar dan
megah dalam tata lampu maupun panggungnya. Alur cerita drama
yang ditampilkan memang cukup sulit dipahami oleh masyarakat awam, hal itu dapat dikarenakan
sajian pentas drama dibawakan dalam tembang dengan Bahasa Jawa alus. Edukasi sejarah yang diangkat dari
kisah nyata drama tari Matah Ati masih belum maksimal bisa dicerna oleh
masyakarat karena minimnya pengayaan budaya milik sendiri. Perilaku konsumtif
dapat saja muncul dibalik membudlaknya antuasiame penonton Matah Ati.
Globalisasi
dan Adol Umuk
![]() |
| Megahnya pementasan Drama Tari Matah Ati di Pamedan Mangkunegaran Surakarta (8/9) |
Kebutuhan akan life style dapat saja muncul pada ribuan
penonton Matah Ati. Ulasan terakhir dari Suara Merdeka (13/9) terkait Matah ati
menyebutkan bahwa rasa penasaran masyarakat terhadap Matah Ati dapat menggeser dari
nilai edukasi tradisi kepada rasa gengsi. Cara-cara penyikapan yang demikian tidak
begitu disadari muncul dan khasanah Jawa menyebutnya “adol umuk”.
Matah Ati memang
merupakan karya besar anak negeri. Masyarakat patut mengapresiasi pergelaran
ini, namun yang perlu menjadi catatan penting adalah tidak sekedar
mengapreasiasi kemegahan panggung, sejarah yang syarat tradisi perlu untuk
dibawa mendarah daging. Usai Matah Ati berlalu di Kota Surakarta, masyarakat
hendaknya sadar memiliki budaya-budaya kesenian yang telah disajikan Matah Ati
dengan kemasan mendunia. Masyarakat jangan sampai lupa bahwa kita memiliki
budaya kesenian yang bernilai mahal. Sisi tradisi dan budaya yang telah dibawa
dalam Matah Ati, patutnya kita turunkan pada generasi penerus dengan
spontanitas agar anak-anak kita mampu mengenal kesenian, tradisi dan sejarah.
Jangan sampai anak-anak merasa asing kala mereka bertemu dengan pertujukan
kesenian budaya di kesempatan mendatang.
Jangan sampai pula
sikap-sikap yang dibawa oleh globalisasi menumpang dalam diri penonton yang
hadir antuasis dalam pergelaran Matah Ati. Nilai hedonisme harus patutnya sudah
hilang kala masyarakat ramai-ramai memberikan tepuk tangan pada panggung Matah
Ati. Pandangan yang
menganggap kesenangan dan kenikmatan dalam kemewahan pertunjukan Matah Ati
bukanlah sebagai tujuan utama. Pelestarian nilai budaya adalah edukasi
terpenting dari Matah Ati yang tidak boleh dilupakan para penonton ke depannya.
Penonton
konsumtif tidak perlu muncul diantara pasang mata yang menyaksikan Matah Ati.
Masyarakat jangan sampai
rela konsumtif mengocek uang ratusan ribu demi memenuhi hasratnya dan agar bisa
adol umuk kepada anggota masyarakat lainnya. Seperti perburuan akan fashion terbaru, jam tangan merek
ternama, sepatu, dan kali ini berlomba-lomba menonton pertunjukan spektakuler
mengikuti prestise akan menjadi salah
satu saksi bisu budaya hedonis ini.
Pada akhirnya hal tersebut mampu mempengaruhi
konsumsi publik. Pertunjukan Matah Ati bukan semata menghadirkan kesenangan dan
kenikmatan visual bagi kalangan hedonis di masa globalisasi. Kekayaan
pengetahuan pada Bahasa Jawa, seni musik gamelan, seni tarian Jawa menjadi
pekerjaan rumah bersama kita. Generasi penerus membutuhkan edukasi budaya dan
nilai tradisi tersebut sehingga dapat tercipta sense of belonging pada diri
mereka. Rasa jet lag tak perlu muncul
ketika generasi masa depan mendapati sajian budaya tradisi di lingkungan mereka
kelak. Utamanya dalam Bahasa Jawa, pendidikan Bahasa Jawa perlu untuk
digalakkan. Masyarakat Jawa jangan sampai hilang Jawanya.


0 komentar:
Posting Komentar