Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi
Tampilkan postingan dengan label gender. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gender. Tampilkan semua postingan

2 Sep 2013

Kota Inklusi dan Layak Anak



*Telah dimuat dalam Harian Umum Joglosemar, 3 September 2013 hlm 8

Bulan September tahun 2013, Kota Surakarta tengah berupaya menggodok kebijakan baru dalam rangka menuju sebuah Kota Inklusi. Inklusi merupakan sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan lingkungan yang semakin terbuka. Hal ini berarti bahwa adanya keterbukaan dan keramahan bagi semua, saling menghargai dan mengikutsertakan perbedaan karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya. 

Read more »

22 Jul 2013

Gender Bukan Hanya Menyoal Perempuan


Gambar diambil dari iwandahnial.wordpress.com

 Dewasa ini kita sudah sering mendengar istilah gender. Sebut saja hal yang tengah ramai dibicarakan saat ini, RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender, kebijakan berpreskpektif gender, pengarutamaan gender hal-hal tersebut nampaknya tidak asing lagi di lingkungan sosial kita. Namun, apa itu sebenarnya gender? Apakah masyarakat kita sudah tepat mendefinisikan dan menempatkan gender dalam perspektif mereka.
   Sudah banyak ahli studi gender yang merumuskan definisi dari gender. Gender merupakan sebuah perspektif bukan hanya sekedar teori yang sekali baca dapat kita pahami begitu saja. 

Read more »

24 Apr 2013

Perempuan Berpolitik


Telah dimuat dalam Kolom Anotasi Perempuan, Harian Umum Suara Merdeka Selasa, 23 April 2013
Gambar diambil dari www.tabloidcleopatra.com

Perlawanan atau mengritisi kultur patriarki telah banyak dilakukan, ditandai dengan emansipasi Kartini. Kini perempuan telah banyak yang terjun dalam ranah publik. Kuota 30% perempuan dalam kursi politik menunjukkan keterlibatan perempuan turut berkecimpung dalam ranah publik, sekalipun dalam urusan kenegaraan.

Read more »

29 Jun 2012

Toilet Publik Responsif Gender

* Dimuat dalam Harian Umum Solopos, Edisi 28 Juni 2012 halaman 4

Kota Solo terus-menerus bebenah diri. Secara kasat mata, pembangunan dan pemerataan pelayanan publik selalu diupayakan meningkatLayanan transportasi modern, taman kota yang semakin menjamur dan penyediaan ruang srawung warga seperti city walk dan area car free day dan berbagai event kota menunjukkan geliat perkembangan Kota Solo.
Pencitraan kota dikejar sebagai upaya promosi pariwisata kota. Kota Solo dikembangkan menjadi kota meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) sehingga perlu penyediaan sarana publik yang humanis. Selain masalah moda trasnportasi humanis dan pengembangan kawasan pedestrian, hal terpenting yang seharusnya terjamin yaitu ketersediaannya adalah toilet publik yang nyaman dan aman.
Kota Solo memang kurang memperhatikan kebutuhan toilet publik ini. Secaraa kuantitas dan kualitas, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo belum memberikan perhatian pada penyediaan toilet publik. Faktanya toilet publik merupakan satu hal yang sangat vital namun acapkali terlupakan. Bagi Kota Solo yang dikembangkan menjadi kota budaya, toilet publik adalah kebutuhan mendesak.
Pada Maret-April lalu, Pemkot Solo mengadakan Lomba Desain Toilet Publik dengan tema Solo Ecocultural City: Unik, Portabel dan Fungsional. Ruang terbuka yang ditentukan dalam lomba desain toilet publik ini adalah kawasan Ngarsopuran, Gladak Langen Bogan (Galabo), Taman Kota Monumen 45 Banjarsari dan area city walk. Lomba desain toilet publik yang diadakan oleh Pemkota Solo ini lebih cenderung menitikberatkan pada aspek ecocultural.
Di tengah meningkatnya pemanasan global, saat ini telah banyak kita jumpai konsep dengan sebutan eco di awal kalimatnya. Ecocultural merupakan konsep pengembangan kota yang berbasis nuansa budaya yang ramah lingkungan. Hal tersebut dirasa tepat sekali diterapkan dalam pembangunan tata ruang Kota Solo yang memiliki slogan Tri Krida Utama Kota Solo, yaitu sebagai kota budaya, kota pariwisata dan kota olahraga. Dalam pelaksanaannya ditunjang dengan program Solo Berseri (bersih, sehat, rapi dan indah) yang dibingkai dalam slogan Solo The Spirit of Java.
Kesuksesan penyelamatan lingkungan hidup membutuhkan upaya bersama dan simultan dari seluruh elemen masyarakat (organisasi dan individu) maupun pemerintah dengan pelibatan semua instansi terkait. Lomba desain toilet publik di Kota Solo yang diselenggarakan oleh Dinas Tata Ruang Kota mampu menjembatani pemerintah dan masyarakat dalam sinergi dan membangun jaringan kerja mewujudkan fasilitas publik yan nyaman dan aman.
Inisiatif ini menjadi sarana untuk membumikan gaya hidup masyarakat yang mampu berperan menjaga keseimbangan dan keamanan ekologi sehingga tercipta sistem kehidupan yang sehat. Harapannya, hasil lomba ini adalah pengadaan toilet publik yang berperspektif health and green life yang mampu mendukung upaya mengurangi pencemaran lingkungan dan menciptakan sanitasi yang baik. Penyediaan toilet publik ini mampu menghindarkan masyarakat dari kebiasan buruk membuang air kecil (urinate) sembarangan di ruang terbuka. Adakah yang terlupakan dalam penyediaan sarana publik satu ini?

Kebutuhan Sasaran
Kebijakan dengan sasaran publik seharusnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sasaran itu sendiri. Pembangunan toilet publik takkan menyentuh sasaran secara optimal jika hanya memperhatikan aspek kebudayaan dan lingkungan. Aksesibilitas dari semua pihak harus menjadi pertimbangan ketika Pemkot Solo hendak merealisasikan pembangunan toilet publik. Aspek responsif gender sering terlupakan dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan publik. Pembangunan toilet publik seharusnya mengutanakan visi responsif gender ini karena pengarusutamaan gender telah menjadi salah satu dasar politik pembangunan di Kota Solo.
Menyoal gender tidak berarti kita hanya membahas perempuan dan memperjuangkan kaum perempuan. Gender tidak semata-mata tentang laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga anak laki-laki dan perempuan, orang-orang lanjut usia atau kelompok orang-orang yang mempunyai kebiasaan yang berbeda, kalangan penyandang cacat atau difabel dan juga orang-orang yang mempunyai tingkat ekonomi yang kurang mampu.
Responsif gender berarti memperhatikan kebutuhan setiap kelompok. Kebijakan responsif gender merupakan alat untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Adil berarti sesuai kebutuhan masing-masing kelompok. Implementasi kebijakan responsif gender dari segi bangunan salah satunya dapat diimplementasikan dalam pengadaan toilet publik. Hal kecil pertama yang secara riil dapat diimplementasikan yaitu dengan menempatkan toilet perempuan dan laki-laki secara terpisah.
Karya peserta lomba desain toilet publik yang dipamerkan di Balai Soejatmoko Solo menunjukkan para peserta lomba berhasil menawarkan konsep yang mengedepankan aspek budaya dan lingkungan. Namun, beberapa di antara desain-desain yang dilombakan itu ada yang belum memperhatikan persoalan gender. Ada desain yang hanya berupa satu ruang toilet untuk laki-laki dan perempuan.
Pengadaan toilet untuk perempuan yang lebih banyak secara kuantitas menjadi titik poin berikutnya bagi toilet yang responsif gender. Kebutuhan laki-laki dan perempuan terkait toilet memang berbeda. Perempuan yang dalam masa menstruasi membutuhkan waktu yang lebih lama di dalam toilet. Kamar toilet perempuan yang lebih banyak bertujuan untuk mengatasi jumlah antrean di luar.
Fasilitas toilet publik memang merupakan fasilitas yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan membuang hajat yang bisa digunakan oleh masyarakat umum tanpa membedakan usia dan jenis kelamin. Jika melihat dengan kacamata gender yang merupakan hasil konstruksi sosial, definisi fasilitas toilet publik yang demikian semestinya bisa didefinisikan ulang. Dari sisi  kebutuhan jelas ada perbedaan dalam penggunaan toilet antara laki-laki, perempuan, kaum difabel, anak kecil dan kalangan orang lanjut usia (lansia) sehingga pembangunan fisik toiletnya perlu dibedakan untuk mengakomodasi kebutuhan mereka.
Harus terbangun kesadaran kritis untuk mengelola lingkungan hidup oleh semua pihak dan pemerataan pelayanan umum bagi semua pihak, sekaligus mulai belajar untuk membangun kesadaran kolektif dalam merawat lingkungan dan perencanaan pembangunan tidak sekadar merespons perkembangan kota secara seremonial. Masyarakat, pemerintah dan/atau dunia usaha diharapkan memperhatikan pilihan-pilihan kebijakan dalam rangka mengatasi kerentanan pada alam dan lingkungan sosial untuk mendukung kehidupan dan penghidupan yang berkelanjutan. Penyediaan toilet publik yang berpihak pada pelestarian lingkungan dan responsif gender jelas selaras dengan hal ini.

Read more »

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format