* Dimuat dalam Harian Umum Solopos, Edisi 28 Juni 2012 halaman 4
Kota Solo terus-menerus bebenah diri. Secara kasat mata, pembangunan
dan pemerataan pelayanan publik selalu diupayakan meningkatLayanan
transportasi modern, taman kota yang semakin menjamur dan penyediaan
ruang srawung warga seperti city walk dan area car free day dan berbagai event kota menunjukkan geliat perkembangan Kota Solo.
Pencitraan kota dikejar sebagai upaya promosi pariwisata kota. Kota Solo dikembangkan menjadi kota meeting, incentive, convention, and exhibition
(MICE) sehingga perlu penyediaan sarana publik yang humanis. Selain
masalah moda trasnportasi humanis dan pengembangan kawasan pedestrian,
hal terpenting yang seharusnya terjamin yaitu ketersediaannya adalah
toilet publik yang nyaman dan aman.
Kota Solo memang kurang memperhatikan kebutuhan toilet publik ini.
Secaraa kuantitas dan kualitas, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo belum
memberikan perhatian pada penyediaan toilet publik. Faktanya toilet
publik merupakan satu hal yang sangat vital namun acapkali terlupakan.
Bagi Kota Solo yang dikembangkan menjadi kota budaya, toilet publik
adalah kebutuhan mendesak.
Pada Maret-April lalu, Pemkot Solo mengadakan Lomba Desain Toilet Publik dengan tema Solo Ecocultural City: Unik, Portabel dan Fungsional. Ruang
terbuka yang ditentukan dalam lomba desain toilet publik ini adalah
kawasan Ngarsopuran, Gladak Langen Bogan (Galabo), Taman Kota Monumen 45
Banjarsari dan area city walk. Lomba desain toilet publik yang diadakan oleh Pemkota Solo ini lebih cenderung menitikberatkan pada aspek ecocultural.
Di tengah meningkatnya pemanasan global, saat ini telah banyak kita jumpai konsep dengan sebutan eco di awal kalimatnya. Ecocultural merupakan
konsep pengembangan kota yang berbasis nuansa budaya yang ramah
lingkungan. Hal tersebut dirasa tepat sekali diterapkan dalam
pembangunan tata ruang Kota Solo yang memiliki slogan Tri Krida Utama
Kota Solo, yaitu sebagai kota budaya, kota pariwisata dan kota olahraga.
Dalam pelaksanaannya ditunjang dengan program Solo Berseri (bersih,
sehat, rapi dan indah) yang dibingkai dalam slogan Solo The Spirit of Java.
Kesuksesan penyelamatan lingkungan hidup membutuhkan upaya bersama
dan simultan dari seluruh elemen masyarakat (organisasi dan individu)
maupun pemerintah dengan pelibatan semua instansi terkait. Lomba desain
toilet publik di Kota Solo yang diselenggarakan oleh Dinas Tata Ruang
Kota mampu menjembatani pemerintah dan masyarakat dalam sinergi dan
membangun jaringan kerja mewujudkan fasilitas publik yan nyaman dan
aman.
Inisiatif ini menjadi sarana untuk membumikan gaya hidup masyarakat
yang mampu berperan menjaga keseimbangan dan keamanan ekologi sehingga
tercipta sistem kehidupan yang sehat. Harapannya, hasil lomba ini adalah
pengadaan toilet publik yang berperspektif health and green life
yang mampu mendukung upaya mengurangi pencemaran lingkungan dan
menciptakan sanitasi yang baik. Penyediaan toilet publik ini mampu
menghindarkan masyarakat dari kebiasan buruk membuang air kecil (urinate) sembarangan di ruang terbuka. Adakah yang terlupakan dalam penyediaan sarana publik satu ini?
Kebutuhan Sasaran
Kebijakan dengan sasaran publik seharusnya dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat sasaran itu sendiri. Pembangunan toilet publik takkan
menyentuh sasaran secara optimal jika hanya memperhatikan aspek
kebudayaan dan lingkungan. Aksesibilitas dari semua pihak harus menjadi
pertimbangan ketika Pemkot Solo hendak merealisasikan pembangunan toilet
publik. Aspek responsif gender sering terlupakan dalam pelaksanaan
kebijakan-kebijakan publik. Pembangunan toilet publik seharusnya
mengutanakan visi responsif gender ini karena pengarusutamaan gender
telah menjadi salah satu dasar politik pembangunan di Kota Solo.
Menyoal gender tidak berarti kita hanya membahas perempuan dan
memperjuangkan kaum perempuan. Gender tidak semata-mata tentang
laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga anak laki-laki dan perempuan,
orang-orang lanjut usia atau kelompok orang-orang yang mempunyai
kebiasaan yang berbeda, kalangan penyandang cacat atau difabel dan juga
orang-orang yang mempunyai tingkat ekonomi yang kurang mampu.
Responsif gender berarti memperhatikan kebutuhan setiap kelompok.
Kebijakan responsif gender merupakan alat untuk mewujudkan kesetaraan
dan keadilan gender. Adil berarti sesuai kebutuhan masing-masing
kelompok. Implementasi kebijakan responsif gender dari segi bangunan
salah satunya dapat diimplementasikan dalam pengadaan toilet publik. Hal
kecil pertama yang secara riil dapat diimplementasikan yaitu dengan
menempatkan toilet perempuan dan laki-laki secara terpisah.
Karya peserta lomba desain toilet publik yang dipamerkan di Balai
Soejatmoko Solo menunjukkan para peserta lomba berhasil menawarkan
konsep yang mengedepankan aspek budaya dan lingkungan. Namun, beberapa
di antara desain-desain yang dilombakan itu ada yang belum memperhatikan
persoalan gender. Ada desain yang hanya berupa satu ruang toilet untuk
laki-laki dan perempuan.
Pengadaan toilet untuk perempuan yang lebih banyak secara kuantitas
menjadi titik poin berikutnya bagi toilet yang responsif gender.
Kebutuhan laki-laki dan perempuan terkait toilet memang berbeda.
Perempuan yang dalam masa menstruasi membutuhkan waktu yang lebih lama
di dalam toilet. Kamar toilet perempuan yang lebih banyak bertujuan
untuk mengatasi jumlah antrean di luar.
Fasilitas toilet publik memang merupakan fasilitas yang dirancang
untuk mengakomodasi kebutuhan membuang hajat yang bisa digunakan oleh
masyarakat umum tanpa membedakan usia dan jenis kelamin. Jika melihat
dengan kacamata gender yang merupakan hasil konstruksi sosial, definisi
fasilitas toilet publik yang demikian semestinya bisa didefinisikan
ulang. Dari sisi kebutuhan jelas ada perbedaan dalam penggunaan toilet
antara laki-laki, perempuan, kaum difabel, anak kecil dan kalangan orang
lanjut usia (lansia) sehingga pembangunan fisik toiletnya perlu
dibedakan untuk mengakomodasi kebutuhan mereka.
Harus terbangun kesadaran kritis untuk mengelola lingkungan hidup
oleh semua pihak dan pemerataan pelayanan umum bagi semua pihak,
sekaligus mulai belajar untuk membangun kesadaran kolektif dalam merawat
lingkungan dan perencanaan pembangunan tidak sekadar merespons
perkembangan kota secara seremonial. Masyarakat, pemerintah dan/atau
dunia usaha diharapkan memperhatikan pilihan-pilihan kebijakan dalam
rangka mengatasi kerentanan pada alam dan lingkungan sosial untuk
mendukung kehidupan dan penghidupan yang berkelanjutan. Penyediaan
toilet publik yang berpihak pada pelestarian lingkungan dan responsif
gender jelas selaras dengan hal ini.
Read more »