Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi

9 Jul 2009

WARNA WARNI PEMILU 2009 ( part 2 ) RENTETAN PANJANG KISRUH DPT

Selama Pemilu 2009 kemarin berlangsung, tentunya masalah DPT selalu menjadi masalah krusial yang terus di blow up. DPT memeng menjadi komponen utama dalam sebuah penyelenggaraan pemilu. Kesuksesan sebuah Pemilu dapat diukur secara kuantitas dan kualitas, atau kesuksesan dalam procedural dan substansial.
Pada Pemilu 2009 ini, penyusunan DPT data kependudukan disediakan oleh Pemerintah Daerah. Data tersebut harus sudah tersedia dan diserahkan KPU paling lambat 12 bulan sebelum hari/tanggal pemungutan suara. Pemutakhiran data pemilih dilakukan oleh KPU dengan mengangkat petugas PPDP setiap TPS 1 orang, PPDP tersebut berasal dari RT/Rw setempat.
Namun yang terlihat saat pemilu 2009 berlanhsung, DPT selalu dipermasahkan. Permasalahan tersebut antara lain ada DPT ganda yang ditemukan di sejumlah daerah, tidak ada pemutakhiran DPS selam setahun sebelum penyelenggaraan pemilu, atau masuknya anggota TNI-POLRI dalam DPT. Dari masalah – masalah tersebut selalu muncul protes dari ormas maupun tim sukses kampanye beberapa partai ataupun kubu.
Lalu apakah masalah kisruh DPT ini sepenuhnya ada ditangan KPU? Hal itu perlu dipertanyakan, presiden yang tengah menjabat saat ini pun pernah menegaskan masalah pelanggaran pileg yang berkaitan dengan DPT ada pada KPU. Jika melihat dalam UU KPU memang sebagai penyelenggaran dan penanggungjawab pelaksanaan Pemilu. Namun, masalah DPT sebenarnya membawa rentetan panjang. Pertama, kita semua pasti juga tahu bahwa penyelenggaraan Pemilu kali ini KPU terlihat tidak terlalu siap dalam menjalankan tugasnya. Pada penyelenggaraan proses seleksi anggota KPU Provinsi, KPU kab/kota dilakukan pada saat tahapan Pemilu sedang dilaksanakan, ini berarti waktu yang pendek yang menjadi faktor munculnya beberapa masalah dalam proses penyelenggaraan Peimilu 2009.
KPU merupakan lembaga negara yang diberikan gaji 5 tahun, tapi sayangnya mereka bekerja hanya pada saat Pemilu hendak dilaksanakan. Anggaran yang diberkan pada KPU juga terbilang besar, namun sarana dan prasarana yang dipakai oleh KPU kurang begitu mendukung untuk menyukseskan Pemilu yang diselenggarakannya. Mungkin karena Pemilu kita sifatnya high cost democracy jadi anggaran yang ada habis untuk membiayai percetakan dan yang lain – lainnya namun saran dan prasaran kerja KPU sediri menjadi tidak maksimal.
Dari masalah kisruh DPT ini, DPR juga memiliki andil. DPR seharusnya juga harus turut mendukung kinerja KPU dengan mengeluarkan kebijakan yang mampu mendorong kinerja KPU serta mengenai waktu kerja KPU. Bukan sebuah intervensi, tapi untuk memaksimalkan kinerja KPU perlu dukungan tersebut.
Dari masalah tidak adanya pemutakhiran DPS menjadi DPT ataupun DPT ganda hal tersebut harus menjadi pembelajaran bangsa ini serta KPU sebagai lembaga yang berwenang terkait masalah ini agar masalah kisruh DPT ini tidak muncul pada pemilu – pemilu yang selanjutnya. Semua stakeholder Pemilu harus bekerja sama untuk mewujudkan Pemilu yang sukses tanpa ada masalah – masalah setelah penyelenggaran Pemilu selesai dan tidak ada situasi saling tuding untuk menyalahkan.

Read more »

NASIONALISME, GLOBALISASI DAN SOLO BATIK CARNIVAL


Gelaran Solo Batik Carnival sudah kedua kalinya ini diselenggarakan oleh Kota Solo pada 28 Juni 2009 kemarin. Dari SBC 1 dapat dikatakn event tersebut telah sukses, jika dilihat dari antusiasme warga yang hadir untuk menonton acara karnaval serta naiknya permintaan batik yang diproduksi di wilayah SOLO yang berati pamor batik telah naik ke pentas dunia.
Salah satu wujud dari sikap bangga kita terhadap bangsa Indonesia adalah penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu atau bahasa ibu di negara ini. Namun di tengah – tengah gera global sekarang ini, seringkali kita menemukan penggunaan istilah asing pada sejumlah istilah oleh pihak Pemkot ataupun sektor bisnis. Bagaimanapun juga, pasar globalisasi tidak mencakup satu kawasan tertentu saja ( negara bangsa ), tapi semua kawasan. Penggunaan istilah global bermakdud mempermudah komunikasi agar maksud yang hendak dicapai dapat diterima di semua kawasan.
Bahasa asing terutama Bahasa Inggris dari dulu, kini dan di masa datang akan terus digunakan terkait eksistensi dari Bahasa Inggris sebagai bahasa nomor satu yang digunakan dan ditermia secara global. Penggunaan bahasa Inggris dalam sebuah slogan bermaksud menggunakan istilah asing tersebut sebagai salah satu mediatornya. Pemkot Solo misalnya, menggunakan istilah SOLO BATIK CARNIVAL sebagai upaya branding kota Solo ke dunia global. Hal ini pada dasarnya tidak terlepas dari kepentingan sektor pariwisata daerah. Penggunaan Bahasa Inggris dalam slogan tersebut tentunya tidak bermaksud untuk menomor dauakan bahasa nasional negara ini, yaitu bahasa Indonesia. Ataupun mengebiri nasionalisme.
Penggunaan iostilah asing dalam slogan kota Solo tersebut, tentu dapat dipahami bahwa bahasa tersebut bisa diterima secara lintas negara dan menjadi kunci utama komunikasi. Untuk memperkenalkan Kota Solo dalam taraf Internasional, kurang pas bisa slogan yang digunakan harus dengan Bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya. Relevansi dari sebuah nasionalisme di era globalisasi seperti sekarang ini, yang harus dapat kita lakukan adalah berpikir global namun bertindak secara lokal. Dalam sebuah globalisasi, pada dasarnya tujuan dari tiap negara adalah bagaimana produk atau jasanya dapat diterima oleh semua negara ( global ) hal tersebut tentunya harus dilakukan dengan muatan bahasa yang mudah diterima secara global.
Globalisasi memang menjadi ancaman bagi nasionalisme suatu bangsa, terutama bangsa Indonesia. Pada konteks ini, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa globalisasi tidak mungubah image bangsa Indonesia secara luas dan Kota Solo secara sempit sebagai wilayah yang kental dengan adat ketimurannya. Penggunaan slogan dalam bahasa asing, teutama bahasa Inggris hanya sebagai bungkus dari sebuah produk pariwisata, selebihnya aktivitas – aktivitas di dalamnya tetap berjiwa nasionalisme yang menjunjung martabat bangsa yang beasr ini.
Solo Batik Carnival tang telah diselenggarkan dua kali ini, diharapkan dapat menjadi event tahunan sehingga nama Kota Solo dapat dikenal sampai dunia internasional. Dengan inovasi dan kreativitas baru SBC diharapkan menjadi lebih punya citarasa Solo dan mampu mengangkat SOLO sebagai Kota Karnaval Dunia, juga batik itu sendiri ke pentas internasional.
Foto – foto Solo Batik Carnival 2 Dok: Pribadi

Read more »

NASIONALISME, GLOBALISASI DAN SOLO BATIK CARNIVAL




Gelaran Solo Batik Carnival sudah kedua kalinya ini diselenggarakan oleh Kota Solo pada 28 Juni 2009 kemarin. Dari SBC 1 dapat dikatakn event tersebut telah sukses, jika dilihat dari antusiasme warga yang hadir untuk menonton acara karnaval serta naiknya permintaan batik yang diproduksi di wilayah SOLO yang berati pamor batik telah naik ke pentas dunia.
Salah satu wujud dari sikap bangga kita terhadap bangsa Indonesia adalah penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu atau bahasa ibu di negara ini. Namun di tengah – tengah gera global sekarang ini, seringkali kita menemukan penggunaan istilah asing pada sejumlah istilah oleh pihak Pemkot ataupun sektor bisnis. Bagaimanapun juga, pasar globalisasi tidak mencakup satu kawasan tertentu saja ( negara bangsa ), tapi semua kawasan. Penggunaan istilah global bermakdud mempermudah komunikasi agar maksud yang hendak dicapai dapat diterima di semua kawasan.
Bahasa asing terutama Bahasa Inggris dari dulu, kini dan di masa datang akan terus digunakan terkait eksistensi dari Bahasa Inggris sebagai bahasa nomor satu yang digunakan dan ditermia secara global. Penggunaan bahasa Inggris dalam sebuah slogan bermaksud menggunakan istilah asing tersebut sebagai salah satu mediatornya. Pemkot Solo misalnya, menggunakan istilah SOLO BATIK CARNIVAL sebagai upaya branding kota Solo ke dunia global. Hal ini pada dasarnya tidak terlepas dari kepentingan sektor pariwisata daerah. Penggunaan Bahasa Inggris dalam slogan tersebut tentunya tidak bermaksud untuk menomor dauakan bahasa nasional negara ini, yaitu bahasa Indonesia. Ataupun mengebiri nasionalisme.
Penggunaan iostilah asing dalam slogan kota Solo tersebut, tentu dapat dipahami bahwa bahasa tersebut bisa diterima secara lintas negara dan menjadi kunci utama komunikasi. Untuk memperkenalkan Kota Solo dalam taraf Internasional, kurang pas bisa slogan yang digunakan harus dengan Bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya. Relevansi dari sebuah nasionalisme di era globalisasi seperti sekarang ini, yang harus dapat kita lakukan adalah berpikir global namun bertindak secara lokal. Dalam sebuah globalisasi, pada dasarnya tujuan dari tiap negara adalah bagaimana produk atau jasanya dapat diterima oleh semua negara ( global ) hal tersebut tentunya harus dilakukan dengan muatan bahasa yang mudah diterima secara global.
Globalisasi memang menjadi ancaman bagi nasionalisme suatu bangsa, terutama bangsa Indonesia. Pada konteks ini, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa globalisasi tidak mungubah image bangsa Indonesia secara luas dan Kota Solo secara sempit sebagai wilayah yang kental dengan adat ketimurannya. Penggunaan slogan dalam bahasa asing, teutama bahasa Inggris hanya sebagai bungkus dari sebuah produk pariwisata, selebihnya aktivitas – aktivitas di dalamnya tetap berjiwa nasionalisme yang menjunjung martabat bangsa yang beasr ini.
Solo Batik Carnival tang telah diselenggarkan dua kali ini, diharapkan dapat menjadi event tahunan sehingga nama Kota Solo dapat dikenal sampai dunia internasional. Dengan inovasi dan kreativitas baru SBC diharapkan menjadi lebih punya citarasa Solo dan mampu mengangkat SOLO sebagai Kota Karnaval Dunia, juga batik itu sendiri ke pentas internasional.
Bgi teman-teman dari luar Kota Solo silahkan datang ke SOLO, sebagai kota budaya Solo pasti akan menyajikan sajian pariwisata dengan citarasa kota budaya. semoga pada penyelenggaraan SBC berikutnya tidak monoton dan dapat terus dielu - elukan oleh masyarakat Kota Solo sendiri.




Foto – foto Solo Batik Carnival 2















Kontes Tulisan Tentang Solo
                    

Read more »

WARNA – WARNI PEMILU 2009 ( part 1 )

Pemilu 2009 yang diselenggarakan oleh bangsa Indonesia kali ini jelas berbeda dengan pemilu – pemilu sebelumnya. Jmelihat kebelakang pada pemilu 2004, pemuli kali ini meskipun sama – sama dilakukan penyelenggaraan pemuli langsung namun pada tataran pkaktisnya pemilu 2009 telah banyak berbeda dengan pemiluy 2004 dan pemilu – pemilu yang lain.
Pemilu 2009 diselenggarakn untuk memilih anggota legislatif dari tingkat DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kab/kota, dan anggota DPD serta memilih pasangan capres dan cawapres yang seluruhnya melibatkan partisipasi rakyat secara langsung. Dalam pileg 2009 baru pertama kali ini dilakukan di Indonesia, dimana saat pelaksannaknya kontituen ( pemilih ) disodori 4 kartu suara untuk memilih calon legislatif tingkat DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kab/kota, dan anggota DPD. Praktek yang demikian tentu saja membuat bingung para pemilih, terlebih jika sosialisasi caleg tidak maksimal ataupun tidak ada sama sekali. Akibatnya angka golput murni menjadi sangat tinggi, jika digabungkan dengan angka golput administratif pada pileg kemarin justru dimenangkan oleh GOLPUT dari pada partai pemenang suara terbanyak. Hmm...apakah itu demokrasi yang berkembang.??? Dari sistem distrik berwakil banyak yang diterapkan dalam pileg, masyarakat distik dapat menuntut secara langsung pada caleg terpilih jika daerah distik mereka tidak ada pembangunan yang signifikan setelah mereka terpilih.
Yang lebih menarik lagi dalam pemilu 2009 dilakukan dengan cara ” NYONTRENG ” tidak lagi dengan cara mencoblos. Keputusan ini diambil oleh KPU dengan alasan, cara ” nyontreng ” dianggap lebih beradap dibanding cara yang lama/ mencoblos. Selain itu dengan nyontreng cara pemilu Indonesia tidak akan kalah dengan negar – negara lain yang telah maju dalam penyelenggaraan pesta demokrasinya.
Pada pealaksanaan Pilpresnya pemilu kali ini harus memenuhi persebaran suara. Dengan mendapatkan suara 50 % dengan sedikitnya 20 5 suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia ( dibaca aja ribet,.apa lagi prakteknya ), barulah kandidat pasangan capres-cawapres dapat dinyatakan menang. Hal ini untuk mrenghindari prtesiden terpilih berasal dari etnik tertentu saja. Melihat dari persyaratan ini, sebenarnya Pilpres satu putaran sulit tercapai tapi sejauh ini prediksi Quick Count menepis hal tersebut. Hasil kandidat terpilih Pilpres 2009 seperinya mampu menembus batas – batas primodial, sungguh hasil yang mencengangkan bila dibanding dengan pemilu – pemilu Indonesia sebelumnya.

Read more »

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format