Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi

8 Des 2013

Cerpen : Senja Kala


Isi kepalaku masih merekam jelas kata dan suara Saifa saat terakhir kami melewati suasana senja di perjalanan menuju Maguwo Yogya. Sa, ingin tulis cerita lagi, tentang Senja dan Kanda, begitu ucapnya kepadaku saat Ia mengantarku menuju bandara Yogya. Sepanjang perjalanan pulang kami saling mengganggu satu sama lain. Ah..rasanya rindu pula pada seluruh rasa itu, meski sekarang tak ada alasan untuk bilang rindu pada Saifa.
Aku putuskan untuk kembali ke kampungku usai sekolahku selesai. Aku putuskan untuk meninggalkan Saifa bersama senja Solo. Kali ini kembali sengaja aku datang ke kotanya. Duduk menatap gagahnya benteng Vansterburg yang kini semakin wibawa, jalanan Sudirman semakin ramai bak arena clubing anak muda yang lengkap dengan temaram lampu kota dan segerombbolan anak muda beragam komunitasnya. Dalam perjalanan  romantismeku, aku rogoh secarik kertas Koran yang mulai lecek dari dalam tasku, mencari secarik cerita pendek Saifa yang sempat Ia kirimkan ke alamat rumahku di Buton.

***
Sinar matahari pagi yang menghangatkan akan terbenam oleh dinginnya senja. Ketika malam menjelang, mungkin di sudut barat sana, matahari telah tumbang di kaki langit, hanya tinggal setengah lingkaran dengan semburat jingga yang manis menghiasi langit kota. Dunia selalu dihadapkan pada dua pilihan. Terbit dan tenggelam.
Senja itu menenangkan. Warna merah yang tergurat menghiasi matahari senja itu begitu indah dan mendamaikan. Mentari senja yang semakin menghilang, tenggelam perlahan-lahan dalam sebuah garis fatamorgana yang kita ciptakan dalam angan-angan cakrawala.
Dia yang ku kenal dan mengisi ruang kosong di hatiku sama seperti senja. Ada perjumpaan dan niscaya ada perpisahan. Selalu ada good bye di setiap hello. Kememudaran rasa semakin lama semakin ada seperti senja yang perlahan menenggelamkan diri dalam garis batas cakrawala. Jika sesuatu yang termiliki dalam rasa tidak memudar, tentu keberadaan rasa akan jelas, tidak seperti sekarang ini, aku memiliki kehilangan Kanda..

“Hatimu sedang menuju sandyakala Kanda…”, ucap Khumaira dalam hati saat menatap dalam mata Arya. “Tak lama lagi engkau akan meletakkan sebuah nama di sisi ruang lainnya dari hatimu dan tak lagi memperpanjang untuk menjatuhkan pilihanmu kepada orang yang engkau anggap teman berbagi dalam cerita ini”, lanjut batin Khumaira meratap sepinya.
Kedatangan Arya dalam hati Khumaira laksana lampu petromaks dalam kegelapan. Bagian di salah satu ruang hati Khumaira telah tertata rapi untuk Arya, akan tetapi setelah tertata rapi justru pemilik ruang tersebut mengemasi etalase-etalase miliknya dari ruang hati Khumaira.

“Coba tengok ke kiri”, kata Khumaira merajuk Arya yang tengah sibuk memainkan ponsel pintarnya di lesehan angkringan Solo.

 “Keren yaa..”, kepala Arya hanya menoleh sesaat akan tetapi sudah mampu memberikan jawaban matang.
“Senja di bentang Merbabu. Gunung tampak lebih agung dari tanah ngarai dataran. Dan senja, Senja itu menenangkan. Seperti halnya persahabatan”, kata hati Khumaira. "Kalau besok menikah dengan orang lain, jangan lupa kirim undangannya untukku", Khumaira memohon pada Arya saat rasanya akan memiliki kehilangan semakin terasa.

 "Aku dari pihak laki-laki,tak akan merayakan pesta pernikahan itu", jawab Arya. "Resepsi biar di pihak perempuan saja", lanjut Arya sambil tetap konsentrasi dengan ponsel pintarnya.

"Bagaimana aku mendapat undangannya, jika aku tak mengenal pihak perempuannya", balas Khumaira bertanya.

"Berdoa saja, semoga aku tetap bisa mengundangmu", jawab Arya singkat.

Hati kecil Khumaira bergetar sambil dalam hati berkata, “Tuhan ,aku tak mau doaku itu terkabul, terlalu pahit untuk menerima undangan tersebut kelak nanti.”

*** 

Cerita tentang senja dan sosok Arya. Persis seperti senja kala ku dengan Saifa. Aku ingat di Senja lalu, saat kami menatap takjub Samudra Hindia di depan mata. Deburan ombak yang besar menggulung, dan sejenak Saifa berucap lirih tak ingin ada orang lain mendengar selain aku saat itu. Lihatlah samudra luas di depan mata kita, aku berharap agar cinta ini awet seiring berjalannya usia kita. Aku berdoa agar cinta kita seluas hamparan samudra di depan mata kita. Seindah cerita tentang senja di ujung garis pantai, begitu pintanya kepadaNya.
Rasanya gamang mendengarkan keinginan Saifa yang bertutur tentang cerita masa depan.

Diakhir cerita kami, aku tutup dengan percakapan penutup bahwasanya saya juga ingin membangun kehidupan di kota orang, tapi saya harus pulang. Saya sudah janji dengan orang tua setelah sekolah selesai, saya akan pulang ke daerah. Kalau nanti tidak pulang, bisa-bisa saya kualat..hehehe. Toh Saifa juga ndak bisa ikut pulang... Saat mendengar kalimat itu, Saifa diam sejenak, Ia penyuka senja, matanya masih menatap takjup langit merah berhias makhota senja di ujung garis pantai.

“Masa depan adalah hal yang ghaib, belum tentunya turun ke Bumi”, katanya menutup perbincangan serius kami di bibir pantai Yogya Senja waktu itu.
Cerita yang menceritakan hembusan nafas Saifa yang mulai sering merasa akan memiliki kehilangan. Ia sering berucap tentang hal itu kepadaku. Aku hanya sesekali menggali tentang rasa memiliki kehilangan yang Saifa tengah rasakan, apakah ada rasa pada sesuatu itu, sampai ia takut kehilangan atau adakah moment tertentu yang selalu ingin dimiliki, begitu tanyaku sering ku ulang bertanya pada Saifa saat Ia bertutur tentang kekhawatiran hatinya.

Saifa menjawab dengan tegas, mematahkan pertanyaanku perihal memiliki kehilangan yang sering aku ulang melawan ketakutannya.

"Memiliki kehilangan bukan sekedar soal moment, karena moment adalah hanya sesuatu di masa lalu tapi memiliki kehilangan lebih dari itu, yakni soal respect hingga penerimaan”, begitu terangnya saat kami menikmati bersama senja di tanah dataran yang sama.

“Hanya saja, jangan merasa akan kehilangan itu lebih baik. Tetap yakin saja, selalu rekayasaNya paling baik”, jawabku meluluhkan ketakutannya. Entah berhasil atau tidak, Saifa tidak pernah lagi melanjutkan pembicaraan tentang ini.
***

Sandyakalaning Saifa aku rasakan kuat saat aku kembali datang ke kotanya setelah 2 tahun aku tinggalkan Saifa untuk pulang. Kembali berjalan di Kota ini, membuatku seperti berada di masa lalu. Tersenyum ketika mengecap rasa kekagumanku padanya dan teriris ketika tahu bahwa aku akan meninggalkannya untuk pulang. Melintas sejenak dalam benak di kepala, bagaimana kalau tiba-tiba sosok itu ada di depan mata... Dan ternyata, "Hei Andy...kok ada disini?" Sapa Saifa seperti dejavu.

Sandyakalaning/ Senja Kala: memudar
telah dimuat dengan judul yang sama dalam Harian Umum Solopos, 8 Desember 2013


Read more »

2 Sep 2013

Kota Inklusi dan Layak Anak



*Telah dimuat dalam Harian Umum Joglosemar, 3 September 2013 hlm 8

Bulan September tahun 2013, Kota Surakarta tengah berupaya menggodok kebijakan baru dalam rangka menuju sebuah Kota Inklusi. Inklusi merupakan sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan lingkungan yang semakin terbuka. Hal ini berarti bahwa adanya keterbukaan dan keramahan bagi semua, saling menghargai dan mengikutsertakan perbedaan karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya. 

Read more »

27 Jul 2013

Nasi Liwet Solo yang Ngangenin


1374902520426567498
Gambar diambil dari www.itrademarket.com

Lebaran sudah mendekati, H-12 ini arus mudik sudah terlihat meningkat. Kala lebaran konon katanya kondisi di Ibu Kota berubah menjadi sepi lenggang, tapi bagaimana dengan daerah lainnya. Daerah di sepanjang jalur pantura tentu saja padat merayap kala mudik lebaran. Lalu bagaimana dengan Kota Surakarta atau akrab kita panggil dengan Kota Solo itu. Kota berkembang yang ada di Provinsi Jawa Tengah, sekaligus menjadi barometer kondisi Jawa Tengah. Saat mudik lebaran menjadi tak heran jika mendadak kota kecil ini menjadi macet dengan berbagai macam plat nomor kendaraan luar Solo membludag di jalan-jalan utama kota. Selain menjadi pilihan liburan mereka adalah orang asli Solo yang tengah pulang kampung atau hanya sekedar silaturahim dengan keluarga besarnya di Solo.
Hal yang tak boleh dilewatkan oleh para pengunjung Kota Solo adalah kekhasan kulinernya. Salah satunya yang paling khas dan menarik adalah nasi liwet Solo. Nasi gurih ini biasa dijumpai di warung-warung kuliner di Kota Solo kala pagi dan malam hari. Kuliner yang satu ini memang lebih sedap disantap kala pagi atau malam hari. Nasi liwet menjadi kuliner favorit bagi keluarga Solo. Nasinya yang gurih dan harum membuat banyak orang ingin dan mudah merindukan masakan Solo yang satu ini.
Bagi yang sudah pernah menyantap kuliner Nasi Liwet Solo ini, tentunya dapat merasakan khasanah Jawa nan tradisional dalam penyajian kuliner ini. Disajikan dalam pincuk atau daun pisang yang dilipat menyerupai kerucut mampu menghadirkan rasa Jawanya lebih kental. Sayurnya pun sudah pakem yaitu ada sayur sambal goreng labu siam. Suwiran ayam opor, uritan atau ati dan ampela ayam, telur kukus dan telur rebus serta ditambah pula dengan santan kental yang gurih atau biasa disebut sebagai ‘kumut’ menambah nikmat rasa Nasi Liwet.
1374902052219269937
gambar diambil dari www.food.detik.com
Warung-warung kuliner nasi Liwet kebanyakan adalah warung lesehan. Nikmat bukan? Kita bisa bersantai menyantap sajian kuliner ini bersama rekan-rekan atau keluarga. Tampilan lainnya yang khas saat Anda membeli Nasi Liwet Solo adalah penampilan ‘Yu Sego Liwet’, panggilan akrab bagi para perempuan pedagang Nasi Liwet di Kota Solo. Sego adalah bahasa Jawa dari nasi. Para pedagang nasi liwet memang para perempuan. Mereka tampil tradisional dengan baju model jaman dulu, khas kebaya atau minimal mereka berpenampilan Jawa sederhana dengan cara penataan dagangan secara lesehan dalam wadah-wadah makanan yang khas.


Nasi Liwet legenda di Solo dapat dijumpai di Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah jalan Teuku Umar, Keprabon area Keraton Mangkunegaran atau mudah ditemui di timur Ngarsopuro. Tapi Anda jangan heran ketika harus merogoh kantong secara dalam-dalam usai menikmati Nasi Liwet di Warung Nasi Liwet Bu Wongso Keprabon. Harga nasi liwet di sini lebih tinggi yaitu Rp 10.000 untuk nasi liwet biasa dan Rp 17.000 untuk nasi liwet komplit dengan ati ampela. Lauk pendamping untuk nasi liwet pun cukup lengkap di sini ada potongan ayam dengan harga Rp 5.000, beraneka gorengan dan baceman Rp 1.000.
Selain di Bu Wongso, wisata kuliner nasi Liwet dapat Anda jumpai di daerah Lojiwetan, Jalan Kapten Mulyadi. Tepatnya di timur bekas banteng atau timur kantor Telkom, terdapat warung nasi liwet Bu Sarmi. Ada juga di daerah Purwosari, dekat dengan Statiun Purwosari Jalan Slamet Riyadi Solo. Warung Nasi Liwet Bu yanti tampil dengan bentuk warung lesehan di barat kantor PLN Solo cukup menjanjikan rasanya. Berikut adalah lokasi wisata kuliner Nasi Liwet di Solo:
  1. Bu Wongso Lemu Jl. Teuku Umar, Keprabon Solo buka dari pukul 18.00–24.00 13749026321930074926
  2. Bu Sarmi di Jl. Kapten Mulyadi, Lojiwetan, buka pada pukul 18.00-24.00
  3. Bu yanti di Jl. Slamet Riyadi, Purwosari buka pada pukul 18.00-24.00
Bagi anda pemudik yang tengah melintasi Kota Solo dan/atau yang tengah melakukan silaturahim keluarga di Solo sayang jika anda melewatkan wisata kuliner Nasi Liwet ini. 

Kontes Tulisan Tentang Solo
                    

Read more »

22 Jul 2013

Gender Bukan Hanya Menyoal Perempuan


Gambar diambil dari iwandahnial.wordpress.com

 Dewasa ini kita sudah sering mendengar istilah gender. Sebut saja hal yang tengah ramai dibicarakan saat ini, RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender, kebijakan berpreskpektif gender, pengarutamaan gender hal-hal tersebut nampaknya tidak asing lagi di lingkungan sosial kita. Namun, apa itu sebenarnya gender? Apakah masyarakat kita sudah tepat mendefinisikan dan menempatkan gender dalam perspektif mereka.
   Sudah banyak ahli studi gender yang merumuskan definisi dari gender. Gender merupakan sebuah perspektif bukan hanya sekedar teori yang sekali baca dapat kita pahami begitu saja. 

Read more »

18 Jul 2013

Writer’s Block Vs Blog Walking



Kembali saya buka akun www.mywordandworld.blogspot milik saya terakhir saya postingkan artikel sayai tu tepatnya 4 bulan yang lalu. Apakah ini pertanda blog saya tidak terurus atau saya yang mulai mengalami writer’s block? Writer’s Block yang meruapakan istilah kerena dari kondisi kebuntuan menulis. Pikiran menjadi buntu, otak terasa kaku, seolah ada yang menghalangi keluarnya gagasan. Tak satu pun kata, apalagi kalimat atau pun paragraf yang mampu dihasilkan oleh sang penulis.

Read more »

24 Apr 2013

Perempuan Berpolitik


Telah dimuat dalam Kolom Anotasi Perempuan, Harian Umum Suara Merdeka Selasa, 23 April 2013
Gambar diambil dari www.tabloidcleopatra.com

Perlawanan atau mengritisi kultur patriarki telah banyak dilakukan, ditandai dengan emansipasi Kartini. Kini perempuan telah banyak yang terjun dalam ranah publik. Kuota 30% perempuan dalam kursi politik menunjukkan keterlibatan perempuan turut berkecimpung dalam ranah publik, sekalipun dalam urusan kenegaraan.

Read more »

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format