Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi

29 Agu 2012

Perempuan dan Laki-laki Setara ≠ Adil


Hari ini saya cukup terheran-heran dan tertawa kecil, kala membuka situs email. Ada 2 berita yang muncul di hari ini, yang satu tentang maskulinitas dan satunya tentang feminisme. Feminisme barat, Go Topless Day di New York tengah melakukan aksi “Telanjang Dada Nasional” di ruang publik. Aksi ini sudah dilakukan setiap tahunnya sejak tahun 2007. Feminisme barat menuntut kesetaraan pamer dada dengan melakukan aksi tersebut. 
Mengutip isi berita dari situs email tersebut, menuliskan bahwa muncul kesenjangan, disaat dalam ruang public yang sama para pria yang bertelanjang dada tidak diperhatikan, sedangkan perempuan yang tengah melakukan aksi telanjang dada nasional menarik perhatian masyarakat yang kemudian mengambil foto dan video dengan ponsel mereka. Diskusi saya dengan aktivis perempuan Dewi Candraningrum, dapat menjawab hal tersebut. Menurut Dewi, bahwasanya buah terlarang itu adalah payudara perempuan. bahwasanya selalu vagina dan payudara perempuan yang menjadi dasar utama konsep pornografi. Feminis barat menuntut kesetaraan, meski aksi telanjang dada nasional di barat masih kita tanggapi dengan pro dan kontra.

Lalu, bagaimana dengan para maskulin. Satu berita lagi dari situs yang sama membuat saya tertawa kecil. Judul berita adalah “Menteri Lingkungan Taiwan Imbau Pria Duduk Saat Kencing”. Kencing dengan duduk pada umunya dilakukan oleh para perempuan, sedangkan para laki-laki dengan berdiri. Entah kenapa, penulsi sendiri tidak mendapati jawaban hal ini, karena memang sudah kebiasaan turun temurun bukan? Alasan sang Menteri sebetulnya bagus, yaitu untuk menjaga kebersihan toilet umum dan sebetulnya mampu menjaga kesehatan reproduksi masyarakatnya jika toilet umum belum responsif gender dalam artian toilet laki-laki dan perempuan jadi satu. Instruksi tersebut memicu tanggapan dari khalayak ramai disana, mereka merespon agar para birokrat lingkungan juga mulai mengenakan rok.
Dua aksi yang merujuk pada kesetaraan perempuan dan laki-laki. Tidak ada perlakuan yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Setara memang, tapi belum tentu adil. Adil adalah sesuai dengan kebutuhan dari tiap kelas. Perlakuan yang sama untuk laki-laki dan perempuan belum tentu dapat mencipatakan kondisi yang nyaman bagi keduanya. Setara bertelanjang dada sangat relative bagi hegemoni pencitraan tiap-tiap individu, setara duduk saat kencing bisa saja menjadi tidak adil bagi laki-laki, karena mereka tidak nyaman atau tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

2 komentar:

  • Unknown says:
    26 Maret 2013 pukul 18.34

    kebayang gak ya, kalo kita sering temui toilet untuk laki2 yg terpasang berdiri dengan ukuran tinggi 1 m dan lebar kurang lebih 30 cm yang letaknya 50 cm dari dasar lantai. gimana coba cara jongkoknya, apakah ditoilet perempuan juga ada toilet jenis seperti itu....??

  • Tiyas Nur Haryani says:
    5 Agustus 2013 pukul 00.51

    hahahaha... ya kalo dihimbau jongkok bentuk toiletnya toilet duduk kali ya mas.. duduk sama rendah berdiri sama tinggi..hehe

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format