* Dimuat dalam Harian Umum Solopos Edisi 24 Juli 2012 halaman 4
Gagasan SOLOPOS (23/7) dari Bandung Mawardi menyoroti sastra
anak di Indonesia dan budaya pop yang lengket pada kehidupan anak-anak
kita sekarang. Bandung Mawardi menyebut nasib literasi anak bukti
ketidaksanggupan negara mengurusi ketersediaan bahan bacaan dan buku
pelajaran untuk anak-anak Indonesia. Sesungguhnya dosa ini tidak semata
milik negara hingga akhirnya dunia sastra kita seakan surut di tengah
membanjirnya era serba instan dan virtual.
Kita akui bahwa sastra merupakan bekal masa depan generasi penerus
kita, di mana sastra sering kali adalah potret budaya dan peradaban
bangsa. Dalam buku Pendidikan Karakter Berbasis Sastra karya
Rohinah M Noor (2011), dikutip wasiat Umar Bin Khattab kepada rakyatnya,
“Ajarilah anak-anakmu sastra karena sastra membuat anak yang pengecut
menjadi jujur dan pemberani.”
Minimnya sastra yang hadir di ruang keluarga kita dapat menjadi pemicu degradasi moral agen pelopor kita.
Dewasa ini, karakter agent of change bangsa tak urung
menunjukkan kondisi yang progresif, krisis moral dan akhlak tengah
menjalar pada seluruh lapisan masyarakat baik tua, muda maupun
anak-anak. Degradasi moral warga membuat negeri seakan sedang babak
belur dihantam berbagai masalah. Pertanyaan retoris muncul mencari
penyebab degradasi moral generasi masa depan bangsa. Terlalu kusut
mengurai permasalahan moral generasi kita karena sangat kompleks dan
tidak ada penyebab mutlak yang dapat kita tunjukkan pada publik.
Kemudahan dan ketersediaan sumber informasi publik dalam tampilan
gadget nyatanya tidak selalu membawa angin segar bagi kehidupan
bermasyarakat. Kehadiran televisi di tiap ruang keluarga tersebut mampu
mengubah minat baca buku pada anak-anak dewasa ini. Minat baca anak
tergerus oleh budaya audio-visual yang menghadirkan tontonan yang serba menghibur. Padahal
buku adalah jendela dunia, sastra mampu menjadi sarana dalam mengubah
kondisi sosial masyarakatnya.
Mengutip gambaran loncatan masa praliterer langsung pada masa
pascaliterasi seperti yang dituliskan oleh Rohinah M Noor (2011) di mana
kepedulian orangtua untuk mengajarkan sastra kepada anaknya melalui
tradisi mendongeng yang turun-temurun dimiliki negeri ini, kini sudah
mulai terkikis. Selain itu, dapat dikatakan generasi sekarang juga tidak
mengenal tahap literasi. Hasil penelitian Saleh dkk pada 1995 dan 1996
menunjukkan bahwa sebagian besar orang lebih banyak menghabiskan waktu
mereka untuk menonton televisi dibandingkan membaca. Terkikisnya
literasi juga terbukti dari hasil penelitian Taufiq Ismail yang
dilakukan 1997 hingga 2005 yang menunjukkan kurikulum sastra tidak
diperkenalkan saat bangku SMA.
Hasil survei dari The Political and Economic Risk Country (PERC),
sebuah lembaga konsultan di Singapura pada 2001 mengenai minat baca
penduduk menempatkan Indonesia pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia.
Hanya 4.421.739 orang yang mengunjungi perpustakaan
dari 33 perpustakaan negeri di Indonesia yang tercatat pada 2008.
Bagaimana mungkin anak-anak kita terjun mengenal literasi jika
lingkungan mereka tidak begitu gemar baca tulis. Hal tersebut
mempengaruhi pendidikan karakter anak negeri ini.
Minimnya generasi literer di negeri ini, dapat disebabkan oleh
beberapa faktor yang hadir dari keluarga sebagai lingkungan primer anak
maupun dari negara selaku pemangku kebijakan pendidikan.
Pertama, faktor sejarah diakui mempengaruhi keadaan ini, di
mana sejak zaman kerajaan dan kemudian disambung dengan masa penjajahan,
kegiatan baca tulis banyak digeluti oleh kaum bangsawan dan borjuis
zaman tersebut. Para kawula alit berpeluang sangat kecil untuk
memasuki dunia keaksaraan. Tatanan feodal ini demikian mapan sehingga
untuk waktu yang lama, wong cilik merasa tidak pantas memasuki dunia
baca tulis. Kemudian tradisi tutur sudah membelenggu masyarakat kita.
Tradisi itu juga menjadi salah satu sebab mengapa kita belum juga gemar
membaca dan menulis. Dalam tradisi ini, peran tulisan dianggap kurang
penting.
Kedua, layanan pendidikan yang tidak merata di Indonesia
mampu menjadi persoalan minimnya generasi literer bangsa. Ketika
sebagian masyarakat Indonesia masih mengalami buta huruf, minat baca
tulis tidak mungkin muncul dalam kehidupan bermasyarakat tersebut.
Program gemar membaca terutama bagi anak-anak sebagai sebuah budaya,
melalui keluarga, sekolah, pemerintah, media, sulit terwujud jika masih
ada penduduk kita yang belum melek literasi atau bahkan belum melek
huruf.
Ketiga, kondisi Indonesia sedang terjadi lompatan budaya dari budaya praliterer ke masa pascaliterer
tanpa melalui masa literer. Artinya melompat menjadi masyarakat yang
senang menonton televisi tanpa melalui budaya gemar membaca.
Keempat, masalah prioritas belanja buku yang masih kalah
dibandingkan dengan prioritas belanja pokok yang terus melambung naik
dan belanja lain-lain sebagai tuntutan life style kehidupan.
Saat ini harga buku melambung tinggi, sangat mahal. Hal itu juga
menyebabkan masyarakat enggan membaca. Masalah perekonomian Indonesia
juga turut berkontribusi.
Peran serta orangtua dalam berproses bersama anak-anaknya dalam
mengenal sastra diharapkan mampu membekali masa depan generasi penerus
kita. Tentu saja bukan bekal untuk mendapatkan kesuksesan materi,
melainkan keberhasilan di dalam memperkokoh kepribadiannya. Hingga
dipahami, sastra layaknya kawah candradimuka yang bakal menggodok
kepribadian manusia sebagai agen perubahan yang syarat pada kebenaran
dan kemanusiaan.
0 komentar:
Posting Komentar