![]() |
| Batik Parang |
Tanggal 2 Oktober kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional menyusul penetapan dari UNESCO dan diikuti dengan deklarasi resmi dari Presiden Republik Indonesia Bambang Yudhoyono ditanggal yang sama. Batik merupakan cerminan budaya bangsa Indonesia. Kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Kala waktu itu Batik Solo terbatas dalam lingkungan kraton.
Melihat ke belakang, batik nusantara sempat diklaim oleh negara tetangga yaitu Malaysia sebagai kebudayaan mereka. Kejadian tersebut tentunya membuat geram rakyat negeri agraris ini. Ketetapan dari UNESCO patut membuat rakyat menarik nafas lega. Pengakuan yang demikian tidaklah mudah diperoleh oleh Indonesia. Proses pengukuhan Batik Indonesia cukup panjang, berawal pada 3 September 2008 yang kemudian diterima secara resmi oleh UNESCO pada 9 Januari 2009. Tahap selanjutnya pengujian tertutup oleh UNESCO di Paris pada 11-14 Mei 2009 dan yang terakhir adalah pengukuhan pada tanggal 2 Oktober 2009 tersebut. Oleh karena sulitnya untuk mendapatkan pengakuan tersebut, sudah sepantasnya masyarakat untuk memelihara kebiasaan memakai batik untuk mempertahankan eksistensi batik di dalam negeri.
Tanpa bermaksud primodialisme, Batik Solo memang telah diakui kualitasnya, meski wilayah perbatikan Indonesia juga terdapat di Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat ada Kota Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon. Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya.
Pemimpin Kota Bengawan ini juga terus berupaya ikut menjaga keberadaan Batik Solo dengan mencanangkan Kampung Laweyan sebagai Kampung Wisata Batik pada tahun 2004. Setelah sebelumnya saat orde baru batik tulis dan cap harus bersaing dengan batik printing dan hal tersebut mampu membuat para pembatik Kota Solo khususnya juragan Laweyan menutup usaha mereka.
Solo Batik Carnival
Demi menjaga eksistensi batik, Kota Solo sendiri memiliki beberapa strategi. Salah satunya terdapat pergelaran Solo Batik Carnival (SBC). Solo, sebagai salah satu kota produsen batik ternama, turut mengambil bagian dalam memasyarakatkan batik melalui seni karnaval. SBC telah digelar sebanyak empat kali, pertama kalinya pada tahun 2008 disaat batik belum dikukuhkan oleh Badan UNESCO dan sebelum batik ramai diklaim oleh Malaysia. Komitmen Kota Solo dalam berbatik turut memperkenalkan batik nusantara ke mata internasional dan tentunya ikut menaikkan pamor Kota Solo. Tabloid milik Pemkot Solo, Solo Berseri (Edisi III/2009) menuliskan bahwa suksesnya SBC 1 ditandai dengan banyaknya warga yang hadir saat karnaval digelar dan naiknya permintaan terhadap batik produksi Kota Solo. Hal tersebut dapat menjadi tolak ukur bahwa geliat batik telah naik daun ke pentas dunia ataupun lokal.
Sampai dengan tahun 2011, SBC telah rutin diselenggarakan setiap tahunnya. Solo mampu menjadi ikon baru salah satu duta promosi pariwisata Indonesia. Pupolaritas batik makin meluas, kini batik tak hanya dikenakan dalam model-model pakaian yang terkesan tua. Para pemuda dan pemudi peminat batik mampu menyulap warisan budaya tersebut menjadi pakaian yang fashionable yang digemari remaja hingga orang tua di dalam negeri maupun turis manca. Adanya SBC ternyata turut mampu mendongkrak industri batik, dikarenakan perubahan image bahwa batik bisa dipakai siapa saja, tua muda, batik tidak selalu identik dengan kesan tua.
Upaya branding Batik Solo dan pamor Kota Solo seakan menjadi revolusi tersendiri dalam agenda kota tersebut. Industri batik mampu kembali bangkit dan memutar roda perekonomian kota dari sisi industri kecil menengah, karena rata-rata dari pengusaha Batik Solo adalah industri rumahan. Batik nyatanya menjadi komoditas ekspor nomor satu di Solo. Mengutip Suara Merdeka (22/9) ekspor Batik Solo meningkat tajam di bulan Agustus senilai 2.287.668,04 Dolar AS dengan volume 93.559,29 kg dibanding sebelumnya hanya senilai 758.902,73 Dolar AS dengan volume 33.904,04 kg. Sekiranya batik dan seluruh event yang mengiringinya tidak sekedar menjadi euphoria masyarakat, tetapi menjadi sebuah warisan budaya yang diturunkan kepada anak cucu bangsa untuk terus memproduksinya di masa yang akan datang.

0 komentar:
Posting Komentar