Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi

7 Nov 2010

Media, Kearifan Lokal vs Jawasentris Merapi

Dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini Negara Indonesia tengah dilanda oleh tiga bencana besar sekaligus, yaitu Tsunami di Mentawai, banjir bandang di Wasior dan yang terakhir adalah erupsi ekslposif dari Gunung Merapi di Jawa Tengah. Dari ketiga bencana alam yang terjadi, semuanya telah terdapat tanggap bencana dari pemerintah namun yang perlu digaris bawahi adalah sorot masalah penanganannya. Dalam opini public yang terbentuk, nampaknya terdapat pembedaan dalam penanganan dan besarnya bantuan bagi ketiga bencana alam yang terjadi secara bersamaan tersebut. Nampaknya muncul pembedaan antara Jawa dan luar Jawa dalam penanganan bencana-bencana alam tersebut. Hal-hal semacam itu dapat dipandang sebagai produk serta dampak salah urus negara dalam penanganan bencana alam.
Secara geografis letak geografis Wasior di Papua yang berada di posisi merauke Indonesia memang memberikan kendala dalam masalah jarak bagi peliputan dan penyaluran bantuan. Begitu pula dengan posisi wilayah Mentawai yang jauh dari sentral Indonesia dan kesulitan dalam akses menuju lokasi bencana. Sedangkan jika dibandingkan dengan bencana Merapi, secara akses lebih mudah dijangkau.
Porsi peliputan media juga tidak imbang dalam pemberitaan ketiga bencana yang terjadi hampir bersamaan tersebut. Selain itu, masyarkat kita sepertinya mudah lupa dengan apa yang sebelumnya terjadi, jika sudah terdapat peristiwa atau kejadian yang lebih update lagi. Bencana di Wasior dan Mentawai telah merenggut korban dan juga mengalami destruksi yang cukup parah begitu pula dengan Mentawai, dibanding dengan kondisi yang terjadi di Merapi korban yang tewas memang tidak lebih banyak dibanding Mentawai, kerusakan dan kerugian yang timbul dari ketiga macam bencana yang terjadi di tiga lokasi tersebut tentunya berbeda. Selama ini dari ketiga bencana tersebut coverage liputan dapat dinilai kurang seimbang dan meluas, setiap hari ataupun setiap selang satu jam hampir seluruh media cetak maupun elektronik menyajikan berita yang begitu mengupas secara mendalam mengenai mitigasi dan evakuasi bencana Merapi, selain itu memang kondisi di Merapi masih memungkinkan berlangsungnya moment-moment kemanusiaan yang menarik untuk diliput dan lebih menjual di hadapan layar kaca public karena kesukaan masyarakat Indonesia pada hal-hal yang baru.
Ketika bencana Merapi terjadi, sampai-sampai pejabat nomor satu negri ini ada yang memutuskan untuk pindah ke Kota Yogyakarta dalam penanganan bencana. Kunjungan ke daerah bencana yang lain memang telah dilakukan, namun ketika muncul keputusan untuk pindah di Kota Yogyakarta sepetinya “kurang pas” jika keputusan tersebut diambil pada saat Indonesia tengah mengalami tiga bencana di tiga tempat berbeda, dan sampai saat ini pun bencana Merapi masih digolongkan dalam kategori bencana daerah belum masuk dalam kategori bencana nasional.
Kearifan local dalam pengananan bencana memang muncul di setiap terjadi bencana alam di negri ini. Kearifan lokal sering dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom). Kearifan lokal adalah sikap, pandangan, dan kemampuan suatu komunitas di dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya, yang memberikan kepada komunitas itu daya-tahan dan daya tumbuh di dalam wilayah dimana komunitas itu berada. Dengan kata lain kearifan lokal adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat local. Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dari kacamata kearifan local, tidak ada sebutan berpihak dan tidak ada yang terlupakan. Dalam penganan bencana dari kacamata kearifan local, tentunya yang pertama akan kita tolong adalah lokasi yang paling dekat terlebih dahulu, barulah kemudian yang jauh. Setiap daerah sekitaran bencana alam akan saling bahu membahu meringankan saudara-saudara mereka yang sedang terkena bencana berdasarkan kemampuan suatu komunitas di dalam wilayah dimana komunitas itu berada. Pemberitaan yang dominasi pada wilayah terdekat dapat pula sebagai aksi kepedualian pada masyarakat local dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat local korban bencana tersebut.
Selama ini memang basis pembangunan berada di Jawa, sehingga tak heran media elektonik swasta lebih berkembang pesat di pusat Indonesia dibanding media-media local daerah baik di Jawa maupun di luar Jawa itu sendiri. Pembangunan yang tidak merata antara Pulau Jawa dan Pulau di luar Jawa pada dasarnya selalu menimbulkan kesenjangan. Istilah Jawasentris sudah kita kenal sejak zaman Orde Lama, ada mindset bahwa kebijakan-kebijakan khususnya di bidang ekonomi tersentralisasi di pusat yaitu Jawa. Saat ketiga bencana terjadi pada waktu yang hampir bersamaan di Indonesia di tiga lokasi berbeda, dimana dua lokasi di luar Jawa dan satu bencana yang berlokasi di Jawa, membuat aroma Jawasentris kembali terasa. Seperti diungkap di atas, masalah porsi pemberitaan lewat media cetak dan elektronik yang tidak seimbang, pihak-pihak yang seharusnya mengayomi di tengah-tengah juga terkesan sangat mendukung Jawasentris. Selain hal tersebut, penumpukan bantuan dan relawan nampaknya juga menumpuk di Jawa, untuk kawasan di luar Jawa seakan terabaikan karena terkendala jarak dan akses menuju lokasi bencana.
Semoga dalam pengananan bencana semacam ini memang semuanya berjalan sesuai prosedur, tidak ada pembedaan Jawa dan Non-Jawa di dalamnya. Dalam bencana Mentawai dan Wasior memang berbeda dengan bencana Merapi, dimana bencana Mentawai dan Wasior hanya berlangsung sekali dan tinggal penganganan korbannya saja, sedangkan untuk Merapi mengalami bencana gunung meletus secara continue karena letusan Merapi bersifat bertahap. Ironis memang jika rakyat Indonesia tidak mendapatkan keadilan disaat bencana sekalipun. Hal-hal semacam itu, pada akhirnya akan mampu mengancam keutuhan NKRI karena muncul kesenjangan antar daerah. Semboyan Bhineka Tunggal Ika harus dapat kita pegang teguh selalu, harapannya tidak hanya bersifat NATO, No Action Talk Only dalam menjaga semangat Bhineka Tunggal Ika tersebut. Kurang meratanya porsi pemberitaan dari semua bencana di negri ini semoga tidak menghambat dan mengurangi porsi bantuan yang diterima oleh saudara-saudar kita yang tengah dilanda bencana alam baik itu di Wasior, Mentawai dan Merapi.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format