Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi

20 Sep 2010

Pemulung Dipersilahkan Masuk

*Tulisan merupakan hasil pengalaman penulis selama menjadi enumerator penelitian eksplorasi pekerja terburuk anak kategori pemulung sampah. Surakarta, September 2010
 
Pernahkah kita membaca notification “Pemulung Dipersilahkan Masuk” di lingkungan sekitar tempat tingggal kita? Saya jawab pasti belum pernah menemui notification seperti demikian sampai dengan saat ini. Harapan seperti ini muncul pada suatu ketika saya melihat bahwa pekerjaan pemulung masih terdiskrimansikan di masyarakat kita. Sampai saat ini pekerjaan yang dilakukan oleh para pemulung masih dipandang sebelah mata, lantaran pekerjaan tersebut akrab dengan tempat sampah yang kotor. Padahal selama pekerjaan tersebut masih dilakukan dalam kaidah norma yang benar, bukankah hal tersebut halal dan bukan pekerjaan kotor bukan?

Lingkungan pada dewasa ini semakin hari semakin rusak, padahal pemanfaatan dan pemeliharaan lingkungan adalah hak dan tanggung jawab semua insan. Kerusakan lingkungan salah satunya dapat disebabakan karena pertambahan jumlah penduduk yang tidak terkontrol dan tidak seimbang dengan peningkatan kemampuan dalam mengelola lingkungan. Bayangkan saja jika limbah padat plastik akan terurai lebih dari 200 tahun dan berapa orang di Kota Surakarta ini, hitung saja 500.000 orang setiap orang menggunakan plastik tiap hari, berapa limbah plastik yang dihasilkan masyarakat Kota Surakarta?

Bila kita cermati, pemulung dapat juga berjasa bagi lingkungan. Namun kekerasan phikis ternyata masih sering diperoleh para pemulung. Kita lihat saja beberapa gang masuk di sudut kota ini, masih banyak yang bertulisakan “Pemulung Dilarang Masuk” di tembok gang-gang tersebut. Tak jarang para pemulung harus mendapati perlakuan kasar yaitu diusir oleh warga kampung tempat dia memulung, karena masalah ketidakpercayaan warga pada kerja yang tengah dilakukan oleh para pemulung, dan acap kali terdapat kasus dimana muncul dugaan bahwa pemulung selain memulung sampah daur ulang mereka juga mencuri barang milik warga yang berada di pekarangan rumah mereka. 

Pekerjaan para pemulung dimana mereka bekerja mencari sampah daur ulang merupakan wujud pengelolaan sampah secara terpadu. Namun, karena kurangnya dukungan beberapa pihak dalam pengelolaan sampah, wujud pengelolaan tersebut dapat dikatakan belum rapi. Management trust antara masyarakat dan pemulung sangat diperlukan dalam merealisasikan kalimat “Pemulung Dipersilahkan Masuk” dalam mendukung pengelolan lingkungan secara terpadu dan rapi. Habbit masyarakat kita belum mampu jika harus terbiasa memisahkan jenis-jenis sampah dan mengaturnya dalam tiap kantong-kantong sampah yang berbeda. Padahal hal tersebut dapat memudahkan dalam pengelolaan sampah. Para pemulung sampah sebenarnya banyak membantu dalam pengelolaan sampah yang demikian ini, setiap hari mereka memilah jenis sampah dan mengambil sampah daur ulang untuk disetor kepada para pengusaha barang daur ulang untuk dihasilkan barang-barang yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. Oleh karena itu, para pekerja pemulung itu sendiri diharapkan mampu menjaga image pekerjaan mereka dengan bekerja sesuai kaidah norma yang benar. Dengan demikian management trust dapat terbentuk di antara para pekerja pemulung dan masyarakat dalam pegelolaan lingkungan.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format