Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi
Tampilkan postingan dengan label kesehatan reproduksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan reproduksi. Tampilkan semua postingan

24 Okt 2014

Melawan HIV dan AIDS

*Telah dimuat dalam Harian Umum Joglosemar 23 September 2014 hlm 8






HIV dan AIDS di Jawa Tengah dikabarkan telah tercatat mencapai 9393 kasus, dan perlu kita garis bawahi bahwa data tersebut masih under estimate. Singarimbun (1997) pernah menjelaskan bahwa fenomena HIV AIDS selalu seperti gunung es yang kelihatan jauh lebih kecil daripada keadaan sebenarnya, penemuan 1 kasus HIV dan AIDS sebenarnya setara dengan 100 kasus yang tidak terdeteksi. Kota Surakarta disebut-sebut menduduki peringkat kedua tertinggi di Jawa Tengah dalam kasus HIV dan AIDS. Angka HIV dan AIDS di Jawa Tengah telah mendekati jumlah kasus di daerah-daerah epidemi HIV dan AIDS seperti DKI Jakarta, Bali, Jawa Timur dan Jawa Barat yang tergolong sebagai kota megapolitan dan angka di Jawa Tengah telah mendekati angka HIV dan AIDS di Papua.

Read more »

4 Mar 2012

Pemenuhan Kebutuhan Gender dalam Kesehatan Reproduksi Ibu Hamil

Perawatan kesehatan primer menitikberatkan kehamilan dan persalinan yang aman. Kesehatan ibu yang berkualitas sangat menentukan pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk menjawab permasalah tersebut perlu diupayakan kebijakan yang memilki daya ungkit besar dan dilaksanakan dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di masyarakat itu sendiri. Untuk itu digalakkan Gerakan Sayang Ibu (GSI) yang memperkecil kendala dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Gerakan Sayang Ibu (GSI) dirumuskan menjadi semacam gerakan yang dilaksanakan dalam upaya membantu salah satu program pemerintah untuk peningkatan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang berdampak terhadap upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) karena hamil, melahirkan dan nifas. Gerakan Sayang Ibu merupakan modifikasi dan reaktualisasi dari Gerakan Kesejahteraan Ibu yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 29 Juni 1988 dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu secara keseluruhan, termasuk kualitas hidup dan status wanita di Indonesia. Tujuan utama dari Gerakan Kesejahteraan Ibu tersebut adalah menurunkan jumlah kematian ibu secara nyata dan memastikan setiap ibu di Indonesia mendapat kesempatan untuk melahirkan bayi sehat dan selamat (Depkes RI, 1995 dalam Budianto, 2006: 5).
Gerakan Sayang Ibu (GSI) melibatkan beberapa komponen sebagai pelaku programnya. Pertama adalah melihat responsivitas ibu hamil pada terhadap kesehatan kandungannya sendiri, dalam GIS para ibu hamil diharuskan untuk memeriksaan kehamilan minimal 4 kali; mengetahui dan mengenali kelainan kehamilan, tahu cara pencegahan dan penanggulangannya; mengupayakan persalinan di tempat/fasilitas kesehatan yang memadai; dan mengetahui kebutuhan gizi yang diperlukan; serta mampu mengambil keputusan. Kedua, adalah faktor suami dimana suami dan keluarga lain memberikan perhatian lebih kepada istri/ibu hamil dan selalu SIAGA (Siap, Antar, Jaga), mengenali kelainan kehamilan sedini mungkin dan segera membawanya ke fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai; dan mempratekkan kesetaraan keadilan gender serta tidak ada kekerasan dalam rumah tangga.
Pada dasarnya dua hal di atas tersebut merupakan variabel utama dalam kesuksesan GIS demi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan/atau upaya mewujudkan kehamilan ibu yang sehat demi generasi penerus bangsa yang sehat pula disamping variabel organisasi kemasyarakatan dalam hal ini adalah para kader GIS di masyrakat dan petugas kesehatan. Faktor-faktor penyebab masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI), pada dasarnya dapat disebabakan karena banyak masalah sosial yang terkait dengan kesejahteraan perempuan bermuara pada kultur patriaki. Secara tidak langsung posisi sosial perempuan yang masih mengalami subordinasi di masyarakat, memberikan sumbangan dalam kesehatan reproduksi ibu. Di banyak masyarakat dunia sudah lazim bagi perempuan dan anak perempuan makan setelah laki-laki dan anak laki-laki, sekalipun perempuan sedang hamil dan menyusui. Hal tersebut menyebabkan mereka kekurangan makan, yang menjurus kepada anemia dan kekurangan gizi. Masalah-masalah tadi bermuara dari ketidakadilan dan ketimpangan gender di masyarakat.
Oleh karena itu, sebuah gerakan yang berangkat dari lini keluarga dalam menjaga kesehatan kehamilan ibu harus mengakar di masyarakat kita. Pemenuhan kebutuhan gender dalam hal ini dapat dibagi menjadi kebutuhan strategis gender dan kebutuhan praktis gender. GSI telah berhasil mengembangkan kebutuhan gender yang dominan bersifat praktis gender di masyarakat, seperti masalah pemeriksaan kehamilan, pemenuhan gizi ibu hamil, persiapan persalinan ibu hamil dimulai dari biaya, persiapan transportasi, pemilihan tempat persalinan dan persiapan donor darah bagi ibu bersalin. Di sisi lain, kebutuhan strategis gender masih perlu digalakkan seperti pemahaman pentingnya perencanaan kehamilan demi menjaga keselamatan bayi yang dikandung dan ibunya, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga demi kesehatan mental dan fisik ibu hamil serta janin dalam kandungannya, dan pembagian peran gender karena sesungguhnya kehamilan bukanlah tanggungjawab dari perempuan semata dan tidak ada pandangan bahwa kehamilan merupakan “bagian yang alami” karena menjadi perempuan. Dengan demikian, kesehatan ibu terutama kesehatan reproduksinya dapat dijaga demi kelahiran generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas.

Read more »

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format