Isi kepalaku masih merekam jelas kata dan suara Saifa saat terakhir
kami melewati suasana senja di perjalanan menuju Maguwo Yogya. Sa, ingin
tulis cerita lagi, tentang Senja dan Kanda, begitu ucapnya kepadaku
saat Ia mengantarku menuju bandara Yogya. Sepanjang perjalanan pulang
kami saling mengganggu satu sama lain. Ah..rasanya rindu pula pada
seluruh rasa itu, meski sekarang tak ada alasan untuk bilang rindu pada
Saifa.
Aku putuskan untuk kembali ke kampungku usai sekolahku
selesai. Aku putuskan untuk meninggalkan Saifa bersama senja Solo. Kali
ini kembali sengaja aku datang ke kotanya. Duduk menatap gagahnya
benteng Vansterburg yang kini semakin wibawa, jalanan Sudirman semakin
ramai bak arena
clubing anak muda yang lengkap dengan temaram
lampu kota dan segerombbolan anak muda beragam komunitasnya. Dalam
perjalanan romantismeku, aku rogoh secarik kertas Koran yang mulai
lecek dari dalam tasku, mencari secarik cerita pendek Saifa yang sempat
Ia kirimkan ke alamat rumahku di Buton.
***
Sinar matahari pagi yang menghangatkan akan terbenam oleh dinginnya senja.
Ketika malam menjelang, mungkin di sudut barat sana, matahari telah
tumbang di kaki langit, hanya tinggal setengah lingkaran dengan semburat
jingga yang manis menghiasi langit kota. Dunia selalu dihadapkan pada
dua pilihan. Terbit dan tenggelam.
Senja itu
menenangkan. Warna merah yang tergurat menghiasi matahari senja itu
begitu indah dan mendamaikan. Mentari senja yang semakin menghilang,
tenggelam perlahan-lahan dalam sebuah garis fatamorgana yang kita
ciptakan dalam angan-angan cakrawala.
Dia yang ku kenal
dan mengisi ruang kosong di hatiku sama seperti senja. Ada perjumpaan
dan niscaya ada perpisahan. Selalu ada good bye di setiap hello.
Kememudaran rasa semakin lama semakin ada seperti senja yang perlahan
menenggelamkan diri dalam garis batas cakrawala. Jika sesuatu yang
termiliki dalam rasa tidak memudar, tentu keberadaan rasa akan jelas,
tidak seperti sekarang ini, aku memiliki kehilangan Kanda..
“Hatimu
sedang menuju sandyakala Kanda…”, ucap Khumaira dalam hati saat menatap
dalam mata Arya. “Tak lama lagi engkau akan meletakkan sebuah nama di
sisi ruang lainnya dari hatimu dan tak lagi memperpanjang untuk
menjatuhkan pilihanmu kepada orang yang engkau anggap teman berbagi
dalam cerita ini”, lanjut batin Khumaira meratap sepinya.
Kedatangan
Arya dalam hati Khumaira laksana lampu petromaks dalam kegelapan.
Bagian di salah satu ruang hati Khumaira telah tertata rapi untuk Arya,
akan tetapi setelah tertata rapi justru pemilik ruang tersebut mengemasi
etalase-etalase miliknya dari ruang hati Khumaira.
“Coba tengok ke kiri”, kata Khumaira merajuk Arya yang tengah sibuk memainkan ponsel pintarnya di lesehan angkringan Solo.
“Keren yaa..”, kepala Arya hanya menoleh sesaat akan tetapi sudah mampu memberikan jawaban matang.
“Senja
di bentang Merbabu. Gunung tampak lebih agung dari tanah ngarai
dataran. Dan senja, Senja itu menenangkan. Seperti halnya persahabatan”,
kata hati Khumaira. "Kalau besok menikah dengan orang lain, jangan lupa
kirim undangannya untukku", Khumaira memohon pada Arya saat rasanya
akan memiliki kehilangan semakin terasa.
"Aku dari pihak laki-laki,tak akan merayakan pesta pernikahan itu", jawab Arya. "Resepsi biar di pihak perempuan saja", lanjut Arya sambil tetap konsentrasi dengan ponsel pintarnya.
"Bagaimana aku mendapat undangannya, jika aku tak mengenal pihak perempuannya", balas Khumaira bertanya.
"Berdoa saja, semoga aku tetap bisa mengundangmu", jawab Arya singkat.
Hati
kecil Khumaira bergetar sambil dalam hati berkata, “Tuhan ,aku tak mau
doaku itu terkabul, terlalu pahit untuk menerima undangan tersebut kelak
nanti.”
***
Cerita tentang senja dan sosok Arya. Persis seperti
senja kala
ku dengan Saifa. Aku ingat di Senja lalu, saat kami menatap takjub
Samudra Hindia di depan mata. Deburan ombak yang besar menggulung, dan
sejenak Saifa berucap lirih tak ingin ada orang lain mendengar selain
aku saat itu. Lihatlah samudra luas di depan mata kita, aku berharap
agar cinta ini awet seiring berjalannya usia kita. Aku berdoa agar cinta
kita seluas hamparan samudra di depan mata kita. Seindah cerita tentang
senja di ujung garis pantai, begitu pintanya kepadaNya.
Rasanya gamang mendengarkan keinginan Saifa yang bertutur tentang cerita masa depan.
Diakhir
cerita kami, aku tutup dengan percakapan penutup bahwasanya saya juga
ingin membangun kehidupan di kota orang, tapi saya harus pulang. Saya
sudah janji dengan orang tua setelah sekolah selesai, saya akan pulang
ke daerah. Kalau nanti tidak pulang, bisa-bisa saya kualat..hehehe. Toh
Saifa juga ndak bisa ikut pulang... Saat mendengar kalimat itu, Saifa
diam sejenak, Ia penyuka senja, matanya masih menatap takjup langit
merah berhias makhota senja di ujung garis pantai.
“Masa
depan adalah hal yang ghaib, belum tentunya turun ke Bumi”, katanya
menutup perbincangan serius kami di bibir pantai Yogya Senja waktu itu.
Cerita
yang menceritakan hembusan nafas Saifa yang mulai sering merasa akan
memiliki kehilangan. Ia sering berucap tentang hal itu kepadaku. Aku
hanya sesekali menggali tentang rasa memiliki kehilangan yang Saifa
tengah rasakan, apakah ada rasa pada sesuatu itu, sampai ia takut
kehilangan atau adakah moment tertentu yang selalu ingin dimiliki,
begitu tanyaku sering ku ulang bertanya pada Saifa saat Ia bertutur
tentang kekhawatiran hatinya.
Saifa menjawab dengan tegas, mematahkan pertanyaanku perihal memiliki kehilangan yang sering aku ulang melawan
ketakutannya.
"Memiliki kehilangan bukan sekedar soal moment, karena moment adalah hanya sesuatu di masa lalu tapi memiliki kehilangan lebih dari itu, yakni soal respect hingga penerimaan”, begitu terangnya saat kami menikmati bersama senja di tanah dataran yang sama.
“Hanya
saja, jangan merasa akan kehilangan itu lebih baik. Tetap yakin saja,
selalu rekayasaNya paling baik”, jawabku meluluhkan ketakutannya. Entah
berhasil atau tidak, Saifa tidak pernah lagi melanjutkan pembicaraan
tentang ini.
***
Sandyakalaning
Saifa aku rasakan kuat saat aku kembali datang ke kotanya setelah 2
tahun aku tinggalkan Saifa untuk pulang. Kembali berjalan di Kota ini,
membuatku seperti berada di masa lalu. Tersenyum ketika mengecap rasa
kekagumanku padanya dan teriris ketika tahu bahwa aku akan
meninggalkannya untuk pulang. Melintas sejenak dalam benak di kepala,
bagaimana kalau tiba-tiba sosok itu ada di depan mata... Dan ternyata,
"Hei Andy...kok ada disini?" Sapa Saifa seperti dejavu.
Sandyakalaning/ Senja Kala: memudar
telah dimuat dengan judul yang sama dalam Harian Umum Solopos, 8 Desember 2013
Read more »