Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

24 Mei 2014

Antologi Kisah yang Berulang di Hari Minggu





Lahir pada November 2013. Sebanyak 21 penulis bergabung di dalamnya meramu karya masing-masing. Dilihat dari judulnya, antologi ini memang lahir setelah para penulisnya difasilitasi Balai Soejatmoko dan Sastra Pawon mengandung karya masing-masing di setiap hari minggu. Karya itu seperti anakmu sendiri, yang kau kandung dalam “rahimmu” dan kelak akan lahir ke dunia yang kau tuju untuknya. Dan percayalah, setiap tulisan akan menemukan takdirnya.
Dalam antologi ini, satu cerpen aku titipkan. “Kopi Hitam Terakhir”. Seakan bercerita tentang filosofi kopi ya? Apakah iya, isinya bertutur akan hal itu?

Read more »

8 Des 2013

Cerpen : Senja Kala


Isi kepalaku masih merekam jelas kata dan suara Saifa saat terakhir kami melewati suasana senja di perjalanan menuju Maguwo Yogya. Sa, ingin tulis cerita lagi, tentang Senja dan Kanda, begitu ucapnya kepadaku saat Ia mengantarku menuju bandara Yogya. Sepanjang perjalanan pulang kami saling mengganggu satu sama lain. Ah..rasanya rindu pula pada seluruh rasa itu, meski sekarang tak ada alasan untuk bilang rindu pada Saifa.
Aku putuskan untuk kembali ke kampungku usai sekolahku selesai. Aku putuskan untuk meninggalkan Saifa bersama senja Solo. Kali ini kembali sengaja aku datang ke kotanya. Duduk menatap gagahnya benteng Vansterburg yang kini semakin wibawa, jalanan Sudirman semakin ramai bak arena clubing anak muda yang lengkap dengan temaram lampu kota dan segerombbolan anak muda beragam komunitasnya. Dalam perjalanan  romantismeku, aku rogoh secarik kertas Koran yang mulai lecek dari dalam tasku, mencari secarik cerita pendek Saifa yang sempat Ia kirimkan ke alamat rumahku di Buton.

***
Sinar matahari pagi yang menghangatkan akan terbenam oleh dinginnya senja. Ketika malam menjelang, mungkin di sudut barat sana, matahari telah tumbang di kaki langit, hanya tinggal setengah lingkaran dengan semburat jingga yang manis menghiasi langit kota. Dunia selalu dihadapkan pada dua pilihan. Terbit dan tenggelam.
Senja itu menenangkan. Warna merah yang tergurat menghiasi matahari senja itu begitu indah dan mendamaikan. Mentari senja yang semakin menghilang, tenggelam perlahan-lahan dalam sebuah garis fatamorgana yang kita ciptakan dalam angan-angan cakrawala.
Dia yang ku kenal dan mengisi ruang kosong di hatiku sama seperti senja. Ada perjumpaan dan niscaya ada perpisahan. Selalu ada good bye di setiap hello. Kememudaran rasa semakin lama semakin ada seperti senja yang perlahan menenggelamkan diri dalam garis batas cakrawala. Jika sesuatu yang termiliki dalam rasa tidak memudar, tentu keberadaan rasa akan jelas, tidak seperti sekarang ini, aku memiliki kehilangan Kanda..

“Hatimu sedang menuju sandyakala Kanda…”, ucap Khumaira dalam hati saat menatap dalam mata Arya. “Tak lama lagi engkau akan meletakkan sebuah nama di sisi ruang lainnya dari hatimu dan tak lagi memperpanjang untuk menjatuhkan pilihanmu kepada orang yang engkau anggap teman berbagi dalam cerita ini”, lanjut batin Khumaira meratap sepinya.
Kedatangan Arya dalam hati Khumaira laksana lampu petromaks dalam kegelapan. Bagian di salah satu ruang hati Khumaira telah tertata rapi untuk Arya, akan tetapi setelah tertata rapi justru pemilik ruang tersebut mengemasi etalase-etalase miliknya dari ruang hati Khumaira.

“Coba tengok ke kiri”, kata Khumaira merajuk Arya yang tengah sibuk memainkan ponsel pintarnya di lesehan angkringan Solo.

 “Keren yaa..”, kepala Arya hanya menoleh sesaat akan tetapi sudah mampu memberikan jawaban matang.
“Senja di bentang Merbabu. Gunung tampak lebih agung dari tanah ngarai dataran. Dan senja, Senja itu menenangkan. Seperti halnya persahabatan”, kata hati Khumaira. "Kalau besok menikah dengan orang lain, jangan lupa kirim undangannya untukku", Khumaira memohon pada Arya saat rasanya akan memiliki kehilangan semakin terasa.

 "Aku dari pihak laki-laki,tak akan merayakan pesta pernikahan itu", jawab Arya. "Resepsi biar di pihak perempuan saja", lanjut Arya sambil tetap konsentrasi dengan ponsel pintarnya.

"Bagaimana aku mendapat undangannya, jika aku tak mengenal pihak perempuannya", balas Khumaira bertanya.

"Berdoa saja, semoga aku tetap bisa mengundangmu", jawab Arya singkat.

Hati kecil Khumaira bergetar sambil dalam hati berkata, “Tuhan ,aku tak mau doaku itu terkabul, terlalu pahit untuk menerima undangan tersebut kelak nanti.”

*** 

Cerita tentang senja dan sosok Arya. Persis seperti senja kala ku dengan Saifa. Aku ingat di Senja lalu, saat kami menatap takjub Samudra Hindia di depan mata. Deburan ombak yang besar menggulung, dan sejenak Saifa berucap lirih tak ingin ada orang lain mendengar selain aku saat itu. Lihatlah samudra luas di depan mata kita, aku berharap agar cinta ini awet seiring berjalannya usia kita. Aku berdoa agar cinta kita seluas hamparan samudra di depan mata kita. Seindah cerita tentang senja di ujung garis pantai, begitu pintanya kepadaNya.
Rasanya gamang mendengarkan keinginan Saifa yang bertutur tentang cerita masa depan.

Diakhir cerita kami, aku tutup dengan percakapan penutup bahwasanya saya juga ingin membangun kehidupan di kota orang, tapi saya harus pulang. Saya sudah janji dengan orang tua setelah sekolah selesai, saya akan pulang ke daerah. Kalau nanti tidak pulang, bisa-bisa saya kualat..hehehe. Toh Saifa juga ndak bisa ikut pulang... Saat mendengar kalimat itu, Saifa diam sejenak, Ia penyuka senja, matanya masih menatap takjup langit merah berhias makhota senja di ujung garis pantai.

“Masa depan adalah hal yang ghaib, belum tentunya turun ke Bumi”, katanya menutup perbincangan serius kami di bibir pantai Yogya Senja waktu itu.
Cerita yang menceritakan hembusan nafas Saifa yang mulai sering merasa akan memiliki kehilangan. Ia sering berucap tentang hal itu kepadaku. Aku hanya sesekali menggali tentang rasa memiliki kehilangan yang Saifa tengah rasakan, apakah ada rasa pada sesuatu itu, sampai ia takut kehilangan atau adakah moment tertentu yang selalu ingin dimiliki, begitu tanyaku sering ku ulang bertanya pada Saifa saat Ia bertutur tentang kekhawatiran hatinya.

Saifa menjawab dengan tegas, mematahkan pertanyaanku perihal memiliki kehilangan yang sering aku ulang melawan ketakutannya.

"Memiliki kehilangan bukan sekedar soal moment, karena moment adalah hanya sesuatu di masa lalu tapi memiliki kehilangan lebih dari itu, yakni soal respect hingga penerimaan”, begitu terangnya saat kami menikmati bersama senja di tanah dataran yang sama.

“Hanya saja, jangan merasa akan kehilangan itu lebih baik. Tetap yakin saja, selalu rekayasaNya paling baik”, jawabku meluluhkan ketakutannya. Entah berhasil atau tidak, Saifa tidak pernah lagi melanjutkan pembicaraan tentang ini.
***

Sandyakalaning Saifa aku rasakan kuat saat aku kembali datang ke kotanya setelah 2 tahun aku tinggalkan Saifa untuk pulang. Kembali berjalan di Kota ini, membuatku seperti berada di masa lalu. Tersenyum ketika mengecap rasa kekagumanku padanya dan teriris ketika tahu bahwa aku akan meninggalkannya untuk pulang. Melintas sejenak dalam benak di kepala, bagaimana kalau tiba-tiba sosok itu ada di depan mata... Dan ternyata, "Hei Andy...kok ada disini?" Sapa Saifa seperti dejavu.

Sandyakalaning/ Senja Kala: memudar
telah dimuat dengan judul yang sama dalam Harian Umum Solopos, 8 Desember 2013


Read more »

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format