Hari
ini saya cukup terheran-heran dan tertawa kecil, kala membuka situs email. Ada 2
berita yang muncul di hari ini, yang satu tentang maskulinitas dan satunya
tentang feminisme. Feminisme barat, Go Topless Day di New York tengah melakukan
aksi “Telanjang Dada Nasional” di ruang publik. Aksi ini sudah dilakukan setiap
tahunnya sejak tahun 2007. Feminisme barat menuntut kesetaraan pamer dada
dengan melakukan aksi tersebut.
Mengutip isi berita dari situs email
tersebut, menuliskan bahwa muncul kesenjangan, disaat dalam ruang public yang
sama para pria yang bertelanjang dada tidak diperhatikan, sedangkan perempuan
yang tengah melakukan aksi telanjang dada nasional menarik perhatian masyarakat
yang kemudian mengambil foto dan video dengan ponsel mereka. Diskusi saya
dengan aktivis perempuan Dewi Candraningrum, dapat menjawab hal tersebut. Menurut
Dewi, bahwasanya buah terlarang itu adalah payudara perempuan. bahwasanya
selalu vagina dan payudara perempuan yang menjadi dasar utama konsep
pornografi. Feminis barat menuntut kesetaraan, meski aksi telanjang dada
nasional di barat masih kita tanggapi dengan pro dan kontra.
