Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi
Tampilkan postingan dengan label Kota Solo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Solo. Tampilkan semua postingan

27 Jul 2013

Nasi Liwet Solo yang Ngangenin


1374902520426567498
Gambar diambil dari www.itrademarket.com

Lebaran sudah mendekati, H-12 ini arus mudik sudah terlihat meningkat. Kala lebaran konon katanya kondisi di Ibu Kota berubah menjadi sepi lenggang, tapi bagaimana dengan daerah lainnya. Daerah di sepanjang jalur pantura tentu saja padat merayap kala mudik lebaran. Lalu bagaimana dengan Kota Surakarta atau akrab kita panggil dengan Kota Solo itu. Kota berkembang yang ada di Provinsi Jawa Tengah, sekaligus menjadi barometer kondisi Jawa Tengah. Saat mudik lebaran menjadi tak heran jika mendadak kota kecil ini menjadi macet dengan berbagai macam plat nomor kendaraan luar Solo membludag di jalan-jalan utama kota. Selain menjadi pilihan liburan mereka adalah orang asli Solo yang tengah pulang kampung atau hanya sekedar silaturahim dengan keluarga besarnya di Solo.
Hal yang tak boleh dilewatkan oleh para pengunjung Kota Solo adalah kekhasan kulinernya. Salah satunya yang paling khas dan menarik adalah nasi liwet Solo. Nasi gurih ini biasa dijumpai di warung-warung kuliner di Kota Solo kala pagi dan malam hari. Kuliner yang satu ini memang lebih sedap disantap kala pagi atau malam hari. Nasi liwet menjadi kuliner favorit bagi keluarga Solo. Nasinya yang gurih dan harum membuat banyak orang ingin dan mudah merindukan masakan Solo yang satu ini.
Bagi yang sudah pernah menyantap kuliner Nasi Liwet Solo ini, tentunya dapat merasakan khasanah Jawa nan tradisional dalam penyajian kuliner ini. Disajikan dalam pincuk atau daun pisang yang dilipat menyerupai kerucut mampu menghadirkan rasa Jawanya lebih kental. Sayurnya pun sudah pakem yaitu ada sayur sambal goreng labu siam. Suwiran ayam opor, uritan atau ati dan ampela ayam, telur kukus dan telur rebus serta ditambah pula dengan santan kental yang gurih atau biasa disebut sebagai ‘kumut’ menambah nikmat rasa Nasi Liwet.
1374902052219269937
gambar diambil dari www.food.detik.com
Warung-warung kuliner nasi Liwet kebanyakan adalah warung lesehan. Nikmat bukan? Kita bisa bersantai menyantap sajian kuliner ini bersama rekan-rekan atau keluarga. Tampilan lainnya yang khas saat Anda membeli Nasi Liwet Solo adalah penampilan ‘Yu Sego Liwet’, panggilan akrab bagi para perempuan pedagang Nasi Liwet di Kota Solo. Sego adalah bahasa Jawa dari nasi. Para pedagang nasi liwet memang para perempuan. Mereka tampil tradisional dengan baju model jaman dulu, khas kebaya atau minimal mereka berpenampilan Jawa sederhana dengan cara penataan dagangan secara lesehan dalam wadah-wadah makanan yang khas.


Nasi Liwet legenda di Solo dapat dijumpai di Nasi Liwet Wongso Lemu di daerah jalan Teuku Umar, Keprabon area Keraton Mangkunegaran atau mudah ditemui di timur Ngarsopuro. Tapi Anda jangan heran ketika harus merogoh kantong secara dalam-dalam usai menikmati Nasi Liwet di Warung Nasi Liwet Bu Wongso Keprabon. Harga nasi liwet di sini lebih tinggi yaitu Rp 10.000 untuk nasi liwet biasa dan Rp 17.000 untuk nasi liwet komplit dengan ati ampela. Lauk pendamping untuk nasi liwet pun cukup lengkap di sini ada potongan ayam dengan harga Rp 5.000, beraneka gorengan dan baceman Rp 1.000.
Selain di Bu Wongso, wisata kuliner nasi Liwet dapat Anda jumpai di daerah Lojiwetan, Jalan Kapten Mulyadi. Tepatnya di timur bekas banteng atau timur kantor Telkom, terdapat warung nasi liwet Bu Sarmi. Ada juga di daerah Purwosari, dekat dengan Statiun Purwosari Jalan Slamet Riyadi Solo. Warung Nasi Liwet Bu yanti tampil dengan bentuk warung lesehan di barat kantor PLN Solo cukup menjanjikan rasanya. Berikut adalah lokasi wisata kuliner Nasi Liwet di Solo:
  1. Bu Wongso Lemu Jl. Teuku Umar, Keprabon Solo buka dari pukul 18.00–24.00 13749026321930074926
  2. Bu Sarmi di Jl. Kapten Mulyadi, Lojiwetan, buka pada pukul 18.00-24.00
  3. Bu yanti di Jl. Slamet Riyadi, Purwosari buka pada pukul 18.00-24.00
Bagi anda pemudik yang tengah melintasi Kota Solo dan/atau yang tengah melakukan silaturahim keluarga di Solo sayang jika anda melewatkan wisata kuliner Nasi Liwet ini. 

Kontes Tulisan Tentang Solo
                    

Read more »

7 Okt 2012

Perokok Aktif Tirtonadi Masih Belum Taat


Picture from this

* Artikel ini ditulis saat mengikuti test jurnalistik calon reporter Harian Umum Solopos, dan berhasil membawa penulis lolos pada tahap berikutnya. 
Solo (20/10)
“Pak tolong perokok yang masih asyik merokok di luar ruang khusus perokok diarahkan masuk ke smoking area”.
Demikian perintah Sentot selaku Kaur Kamtib UPDT Tirtonadi kepada Waris Staf Kamtib UPDT Tirtonadi kamis siang (20/10) saat ditemui di ruang kerjanya. Kesibukan dalam menjawab setiap pertanyaan dari para calon reporter Harian Umum Solopos tidak mengalihkan perhatiannya pada para pelanggar ketertiban di area Terminal Tirtonadi khususnya di ruang tunggu.

Read more »

Solopos di Mata Pengecer Koran



* Arikel ini ditulis saat mengikuti test jurnalistik calon reporter Harian Umum Solopos, dan berhasil membawa penulis lolos pada tahap berikutnya. 
Sumber gambar: solopos.com

Solo, Senin (19/9/2011) Harian Umum Solopos telah merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 14, layaknya remaja yang tengah menginjak usia yang sama, motivasi mempercantik diri tentunya ada dalam nalurinya. Upaya untuk membesarkan Solopos sebagai koran harian berprestasi tentunya menjadi cita-cita utama bagi segenap jajaran koran harian terkemuka di kota Bengawan ini. Persaingan di industri media massa tentu tidak dilupakan begitu saja.

Read more »

1 Jul 2012

Di Balik Kemolekan Solo Batik Carnaval 5 (SBC 5)


1341120911120004826
Solo Batik Carnaval 5 saat tampil On The Street di Jl. Slamet Riyadi Surakarta(30/6)

Pergelaran Solo Batik Carnaval merupakan acara tahunan yang sudah dimulai sejak tahun 2008. Event ini merupakan inisiasi dari Pemerintah Kota Surakarta, sebagai upaya branding Kota Solo dikancah pariwisata. SBC 5 (30/6) menawarkan tema metamorfosis. Yang filosofinya adalah dari kain putih kemudian berubah menjadi batik yang cantik.
Tahun ke tahun evaluasi, perhelatan SBC 5 ternyata belum diikuti dengan kedewasaan dari pihak penyelenggara maupun dari para penonotonnya. Pertama, perhelatan SBC 5 kembali dikomersilkan, sama halnya saat perhelatan SBC 4. Hal ini menjadi amat disayangkan, karena karnaval tidak lagi menjadi pesta rakyat. Ada gap yang muncul, antara pemilik uang dan mereka yang tidak mampu dan/atau engggan membeli tiket untuk dapat menyaksikan para peserta Solo Batik Carnaval berlenggak-lenggok dan menari di atas karpet merah. Meski demikian, SBC tetap tidak melupakan rakyat, karnaval jalan di Jl. Slamet Riyadi Solo tetap dilakukan agar rakyat Kota Solo dan sekitarnya tetap bisa menikmati sebagai kecil mewahnya perhelatan SBC 5 indoor, yang memang rombongan karnaval yang melakukan aksi outdoor tidak berbanding lurus dengan besarnya animo masyarakat yang menunggu rombongan karnaval berjalan.
Kedua, edukasi budaya yang sebenarnya menjadi absurd saat SBC hanya mampu menampilkan tata rias dan tata busana yang mampu membuat penontonnya terkesan. Penonton, belum mampu mengenali dimana letak seni batik yang disuguhkan, apalagi ketika SBC dilaksanakan malam hari yang minim penerangan, sehingga motif batik kurang begitu jelas terlihat. Lukisan batik pada kain-kain yang digunakan sebagai bahan dasar busana menjadi kalah menonjol dibanding dengan kemewahan tata busana yang berhasil didesain oleh para peserta. Penonton, pada khususnya masyarakat Kota Solo juga hanya akan mengagumi kemeriahan busana-busana SBC yang ditampilkan, lagi-lagi melewatkan edukasi menyoal macam-macam corak batik yang diproduksi para perajin batik Kota Solo. Berbeda dengan perhelatan SBC jauh diawal sebelum SBC 5, Pemkot Solo juga turut memberikan edukasi budaya terkait ragam corak batik yang diproduksi perajin di Kota Solo.

13411214501916210202
Penonton SBC 5 yang terus mencoba merangsek ke tengah jalan (30/6)




Ketiga, masalah manajemen penonton memang masih menjadi masalah klasik saat event karnaval di gelar, masyarakat masih pada tataran kesadaran naif. Mereka sudah paham betul, bahwa untuk menikmati karnaval yang memuaskan penonton juga harus berlaku tertib dan rapi di tepi jalan menyaksikan karnaval berlenggak-lenggok di sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi yang menjadi area catwalk. Penonton masih saja mencoba merangsek ke tengah, semuanya ingin dekat dengan rombongan karnaval, menggambil gambar, bahkan foto bersama peserta karnaval di tengah berjalannya karnaval. Kondisi demikian mamng belum ditemukan formulasi yang pas dalam mengatur ketertiban penonton karnaval.

1341121670270347765
Sampah yang berserakan di rute karnaval masih menjadi persoalan klasik.




Keempat, hal yang biasa setelah event kota digelar adalah menumpuknya sampah kota. Masyarakat Solo yang memiliki program BERSERI (Bersih Sehat Rapi Indah) belum mampu sadar kritis terkait pengelolaan sampah. Mereka masih terbiasa dan membiasakan diri membuang sampah sembarangan saat menyaksikan karnaval kota. Hal ini harus dirubah, jika memang tidak bisa dilakukan secara masif maka dimulai dari masing-masing individi harus mulai sadar dan mengaplikasikan tindakan nyata menjaga lingkungan. Minimal, saat perhelatan karnaval kota seperti ini, kita harus terbiasa bertindak BERSERI. Jika memang, SBC terus menjadi perhelatan tahunan untuk mendongkrak pariwisata dan edukasi budaya Kota Solo, maka harapan ke depan tentunya tumbuh kedewasaan dari semua pihak untuk mensukseskan event ini.

Kontes Tulisan Tentang Solo
                    

Read more »

29 Jun 2012

Toilet Publik Responsif Gender

* Dimuat dalam Harian Umum Solopos, Edisi 28 Juni 2012 halaman 4

Kota Solo terus-menerus bebenah diri. Secara kasat mata, pembangunan dan pemerataan pelayanan publik selalu diupayakan meningkatLayanan transportasi modern, taman kota yang semakin menjamur dan penyediaan ruang srawung warga seperti city walk dan area car free day dan berbagai event kota menunjukkan geliat perkembangan Kota Solo.
Pencitraan kota dikejar sebagai upaya promosi pariwisata kota. Kota Solo dikembangkan menjadi kota meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) sehingga perlu penyediaan sarana publik yang humanis. Selain masalah moda trasnportasi humanis dan pengembangan kawasan pedestrian, hal terpenting yang seharusnya terjamin yaitu ketersediaannya adalah toilet publik yang nyaman dan aman.
Kota Solo memang kurang memperhatikan kebutuhan toilet publik ini. Secaraa kuantitas dan kualitas, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo belum memberikan perhatian pada penyediaan toilet publik. Faktanya toilet publik merupakan satu hal yang sangat vital namun acapkali terlupakan. Bagi Kota Solo yang dikembangkan menjadi kota budaya, toilet publik adalah kebutuhan mendesak.
Pada Maret-April lalu, Pemkot Solo mengadakan Lomba Desain Toilet Publik dengan tema Solo Ecocultural City: Unik, Portabel dan Fungsional. Ruang terbuka yang ditentukan dalam lomba desain toilet publik ini adalah kawasan Ngarsopuran, Gladak Langen Bogan (Galabo), Taman Kota Monumen 45 Banjarsari dan area city walk. Lomba desain toilet publik yang diadakan oleh Pemkota Solo ini lebih cenderung menitikberatkan pada aspek ecocultural.
Di tengah meningkatnya pemanasan global, saat ini telah banyak kita jumpai konsep dengan sebutan eco di awal kalimatnya. Ecocultural merupakan konsep pengembangan kota yang berbasis nuansa budaya yang ramah lingkungan. Hal tersebut dirasa tepat sekali diterapkan dalam pembangunan tata ruang Kota Solo yang memiliki slogan Tri Krida Utama Kota Solo, yaitu sebagai kota budaya, kota pariwisata dan kota olahraga. Dalam pelaksanaannya ditunjang dengan program Solo Berseri (bersih, sehat, rapi dan indah) yang dibingkai dalam slogan Solo The Spirit of Java.
Kesuksesan penyelamatan lingkungan hidup membutuhkan upaya bersama dan simultan dari seluruh elemen masyarakat (organisasi dan individu) maupun pemerintah dengan pelibatan semua instansi terkait. Lomba desain toilet publik di Kota Solo yang diselenggarakan oleh Dinas Tata Ruang Kota mampu menjembatani pemerintah dan masyarakat dalam sinergi dan membangun jaringan kerja mewujudkan fasilitas publik yan nyaman dan aman.
Inisiatif ini menjadi sarana untuk membumikan gaya hidup masyarakat yang mampu berperan menjaga keseimbangan dan keamanan ekologi sehingga tercipta sistem kehidupan yang sehat. Harapannya, hasil lomba ini adalah pengadaan toilet publik yang berperspektif health and green life yang mampu mendukung upaya mengurangi pencemaran lingkungan dan menciptakan sanitasi yang baik. Penyediaan toilet publik ini mampu menghindarkan masyarakat dari kebiasan buruk membuang air kecil (urinate) sembarangan di ruang terbuka. Adakah yang terlupakan dalam penyediaan sarana publik satu ini?

Kebutuhan Sasaran
Kebijakan dengan sasaran publik seharusnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sasaran itu sendiri. Pembangunan toilet publik takkan menyentuh sasaran secara optimal jika hanya memperhatikan aspek kebudayaan dan lingkungan. Aksesibilitas dari semua pihak harus menjadi pertimbangan ketika Pemkot Solo hendak merealisasikan pembangunan toilet publik. Aspek responsif gender sering terlupakan dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan publik. Pembangunan toilet publik seharusnya mengutanakan visi responsif gender ini karena pengarusutamaan gender telah menjadi salah satu dasar politik pembangunan di Kota Solo.
Menyoal gender tidak berarti kita hanya membahas perempuan dan memperjuangkan kaum perempuan. Gender tidak semata-mata tentang laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga anak laki-laki dan perempuan, orang-orang lanjut usia atau kelompok orang-orang yang mempunyai kebiasaan yang berbeda, kalangan penyandang cacat atau difabel dan juga orang-orang yang mempunyai tingkat ekonomi yang kurang mampu.
Responsif gender berarti memperhatikan kebutuhan setiap kelompok. Kebijakan responsif gender merupakan alat untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Adil berarti sesuai kebutuhan masing-masing kelompok. Implementasi kebijakan responsif gender dari segi bangunan salah satunya dapat diimplementasikan dalam pengadaan toilet publik. Hal kecil pertama yang secara riil dapat diimplementasikan yaitu dengan menempatkan toilet perempuan dan laki-laki secara terpisah.
Karya peserta lomba desain toilet publik yang dipamerkan di Balai Soejatmoko Solo menunjukkan para peserta lomba berhasil menawarkan konsep yang mengedepankan aspek budaya dan lingkungan. Namun, beberapa di antara desain-desain yang dilombakan itu ada yang belum memperhatikan persoalan gender. Ada desain yang hanya berupa satu ruang toilet untuk laki-laki dan perempuan.
Pengadaan toilet untuk perempuan yang lebih banyak secara kuantitas menjadi titik poin berikutnya bagi toilet yang responsif gender. Kebutuhan laki-laki dan perempuan terkait toilet memang berbeda. Perempuan yang dalam masa menstruasi membutuhkan waktu yang lebih lama di dalam toilet. Kamar toilet perempuan yang lebih banyak bertujuan untuk mengatasi jumlah antrean di luar.
Fasilitas toilet publik memang merupakan fasilitas yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan membuang hajat yang bisa digunakan oleh masyarakat umum tanpa membedakan usia dan jenis kelamin. Jika melihat dengan kacamata gender yang merupakan hasil konstruksi sosial, definisi fasilitas toilet publik yang demikian semestinya bisa didefinisikan ulang. Dari sisi  kebutuhan jelas ada perbedaan dalam penggunaan toilet antara laki-laki, perempuan, kaum difabel, anak kecil dan kalangan orang lanjut usia (lansia) sehingga pembangunan fisik toiletnya perlu dibedakan untuk mengakomodasi kebutuhan mereka.
Harus terbangun kesadaran kritis untuk mengelola lingkungan hidup oleh semua pihak dan pemerataan pelayanan umum bagi semua pihak, sekaligus mulai belajar untuk membangun kesadaran kolektif dalam merawat lingkungan dan perencanaan pembangunan tidak sekadar merespons perkembangan kota secara seremonial. Masyarakat, pemerintah dan/atau dunia usaha diharapkan memperhatikan pilihan-pilihan kebijakan dalam rangka mengatasi kerentanan pada alam dan lingkungan sosial untuk mendukung kehidupan dan penghidupan yang berkelanjutan. Penyediaan toilet publik yang berpihak pada pelestarian lingkungan dan responsif gender jelas selaras dengan hal ini.

Read more »

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format