Kolom Aksara

Jangan malas untuk menulis, membaca buku dan membaca situasi di sekitar kita. Budayakan Literasi
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

7 Okt 2012

Rekonstruksi “Solo The Spirit of Java"



* Artikel ini masuk 10 nomine Lomba Artikel Solopos-BI 

Ingatkah dalam memori kita, Solo The Spirit of Java, muncul sebagai slogan dalam upaya branding image Soloraya. Pengalaman sejarah mencatat bahwa awal mula slogan ini, muncul dari penyelenggaraan kontes pencipta slogan. Dewan juri dalam kontes tersebut menetapkan slogan ini menjadi upaya brading image yang pada dasarnya tidak hanya diperuntukkan bagi Kota Solo. Seiring waktu berjalan ternyata banyak masyarakat awam baik orang Solo maupun orang luar Solo tidak banyak mengetahui persis apa sebetulnya Solo The Spirit of Java. Banyak orang menganggap Solo The Spirit of Java sebatas slogan sama seperti halnya Yogyakarta yang berbunyi “Jogya Never Ending Asia” dan Jakarta dengan “Enjoy Jakarta”.

Read more »

1 Jul 2012

Di Balik Kemolekan Solo Batik Carnaval 5 (SBC 5)


1341120911120004826
Solo Batik Carnaval 5 saat tampil On The Street di Jl. Slamet Riyadi Surakarta(30/6)

Pergelaran Solo Batik Carnaval merupakan acara tahunan yang sudah dimulai sejak tahun 2008. Event ini merupakan inisiasi dari Pemerintah Kota Surakarta, sebagai upaya branding Kota Solo dikancah pariwisata. SBC 5 (30/6) menawarkan tema metamorfosis. Yang filosofinya adalah dari kain putih kemudian berubah menjadi batik yang cantik.
Tahun ke tahun evaluasi, perhelatan SBC 5 ternyata belum diikuti dengan kedewasaan dari pihak penyelenggara maupun dari para penonotonnya. Pertama, perhelatan SBC 5 kembali dikomersilkan, sama halnya saat perhelatan SBC 4. Hal ini menjadi amat disayangkan, karena karnaval tidak lagi menjadi pesta rakyat. Ada gap yang muncul, antara pemilik uang dan mereka yang tidak mampu dan/atau engggan membeli tiket untuk dapat menyaksikan para peserta Solo Batik Carnaval berlenggak-lenggok dan menari di atas karpet merah. Meski demikian, SBC tetap tidak melupakan rakyat, karnaval jalan di Jl. Slamet Riyadi Solo tetap dilakukan agar rakyat Kota Solo dan sekitarnya tetap bisa menikmati sebagai kecil mewahnya perhelatan SBC 5 indoor, yang memang rombongan karnaval yang melakukan aksi outdoor tidak berbanding lurus dengan besarnya animo masyarakat yang menunggu rombongan karnaval berjalan.
Kedua, edukasi budaya yang sebenarnya menjadi absurd saat SBC hanya mampu menampilkan tata rias dan tata busana yang mampu membuat penontonnya terkesan. Penonton, belum mampu mengenali dimana letak seni batik yang disuguhkan, apalagi ketika SBC dilaksanakan malam hari yang minim penerangan, sehingga motif batik kurang begitu jelas terlihat. Lukisan batik pada kain-kain yang digunakan sebagai bahan dasar busana menjadi kalah menonjol dibanding dengan kemewahan tata busana yang berhasil didesain oleh para peserta. Penonton, pada khususnya masyarakat Kota Solo juga hanya akan mengagumi kemeriahan busana-busana SBC yang ditampilkan, lagi-lagi melewatkan edukasi menyoal macam-macam corak batik yang diproduksi para perajin batik Kota Solo. Berbeda dengan perhelatan SBC jauh diawal sebelum SBC 5, Pemkot Solo juga turut memberikan edukasi budaya terkait ragam corak batik yang diproduksi perajin di Kota Solo.

13411214501916210202
Penonton SBC 5 yang terus mencoba merangsek ke tengah jalan (30/6)




Ketiga, masalah manajemen penonton memang masih menjadi masalah klasik saat event karnaval di gelar, masyarakat masih pada tataran kesadaran naif. Mereka sudah paham betul, bahwa untuk menikmati karnaval yang memuaskan penonton juga harus berlaku tertib dan rapi di tepi jalan menyaksikan karnaval berlenggak-lenggok di sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi yang menjadi area catwalk. Penonton masih saja mencoba merangsek ke tengah, semuanya ingin dekat dengan rombongan karnaval, menggambil gambar, bahkan foto bersama peserta karnaval di tengah berjalannya karnaval. Kondisi demikian mamng belum ditemukan formulasi yang pas dalam mengatur ketertiban penonton karnaval.

1341121670270347765
Sampah yang berserakan di rute karnaval masih menjadi persoalan klasik.




Keempat, hal yang biasa setelah event kota digelar adalah menumpuknya sampah kota. Masyarakat Solo yang memiliki program BERSERI (Bersih Sehat Rapi Indah) belum mampu sadar kritis terkait pengelolaan sampah. Mereka masih terbiasa dan membiasakan diri membuang sampah sembarangan saat menyaksikan karnaval kota. Hal ini harus dirubah, jika memang tidak bisa dilakukan secara masif maka dimulai dari masing-masing individi harus mulai sadar dan mengaplikasikan tindakan nyata menjaga lingkungan. Minimal, saat perhelatan karnaval kota seperti ini, kita harus terbiasa bertindak BERSERI. Jika memang, SBC terus menjadi perhelatan tahunan untuk mendongkrak pariwisata dan edukasi budaya Kota Solo, maka harapan ke depan tentunya tumbuh kedewasaan dari semua pihak untuk mensukseskan event ini.

Kontes Tulisan Tentang Solo
                    

Read more »

11 Apr 2012

Hallyu Menantang Indonesia

* Dimuat dalam Harian Umum Solopos, Edisi 10 April 2012 halaman 4

Istilah hallyu tidak asing lagi bagi para penikmat K-Pop (budaya populer asal Korea Selatan). Hallyu atau gelombang budaya dari Korea Selatan (dalam tulisan ini selanjutnya disebut Korea saja) sangat terasa di kehidupan generasi muda saat ini. Anak muda di negeri ini seakan terhipnotis oleh K-Pop. Secara instan menjamur boyband dan girlband Indonesia di panggung-panggung hiburan.
Salah satu bukti anak muda Indonesia terjangkit K-Pop, dengan dibanjirinya antrean penjualan tiket konser boyband asal Korea, Super Junior, oleh anak muda kita yang dikabarkan tiket sudah ludes terjual (7/4/2012). Lidah para remaja lincah melafalkan bahasa Korea dari setiap lirik lagu K-Pop.
Akibatnya banyak remaja berminat belajar bahasa Korea secara intensif. Fashion dan penampilan gaya Korea memiliki banyak pengikut di Indonesia. Gelombang Korea di Indonesia diawali masuknya berbagai drama Korea di layar televisi tiap rumah tangga.
Namun, yang paling terasa ledakannya adalah keberadaan boyband dan girlband Korea yang mampu meneguhkan budaya mereka bersama arus globalisasi. Musik sarat akan budaya populer. Musik menjadi sesuatu yang disukai banyak orang.
Pertunjukan musik memang bisa disinergikan dengan turisme. Oleh karena itu, musik Korea mampu menjadi aset bersifat kebudayaan maupun komersial.

Soft Power
Gelombang K-Pop di dunia tidak terlepas dari  dukungan pemerintah Korea Selatan. Komitmen tinggi tidak hanya dari industri musik Korea saja. Mereka menggandeng pemerintah dalam penggarapannya. Sejak 20 tahun lalu, rancangan Korea di masa depan agar mendunia dilakukan dengan mengandalkan budaya yang mereka miliki sebagai senjata.
Di tingkat kebijakan publik, untuk memajukan pasar musiknya di tingkat global Korea Selatan mengambil kebijakan antibarat. Pemerintah melarang musik asing dan dikembangkanlah musik yang harus mencerminkan identitas nasional.
Didukung akarnya yang kuat, ditunjang oleh manajemen yang baik dan dukungan pemerintah, Korea berhasil menapaki industri musik dunia. Ini tentu berasal dari kerja keras dan kecerdasan membaca pasar.
Korea memang sedang menjadi tren entertainment, dalam hal ini K-Pop. Budaya populer Korea seakan menjadi soft power bagi negara Korea Selatan. Bersandar pada K-Pop, Korea melakukan inflitrasi budaya di berbagai negara. Dalam konsep hubungan internasional, kekuasaan lunak mencakup pengaruh budaya seperti demam K-Pop saat ini.
Konsep soft power diperkenalkan oleh Joseph Nye dari Harvard University, yaitu penonjolan cara-cara nonmiliter dalam memengaruhi negara lain atau memoles citra melalui kekuatan politik, ekonomi dan kebudayaan. Infiltrasi dilakukan bukan dengan pemaksaan, ancaman maupun kekuatan militer.
Dukungan arus globalisasi mampu menekuk dunia yang luas dalam satu lipatan, dan serangan soft power Korea lewat K-Pop tak mampu ditolak begitu saja oleh dunia Internasional. Dengan musik yang merupakan wujud industri kreatif, Korea bisa menjual 13 sektor industri kreatif lainnya di Indonesia dan di  beberapa negara Asia.
Pedoman Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia yang diterbitkan Kementerian Perdagangan menyatakan ada 14 subsektor industri kreatif, yaitu periklanan, penerbitan dan percetakan, TV dan radio, film, video dan fotografi, musik, seni pertunjukan, arsitektur, desain, fashion, kerajinan, pasar barang seni, permainan interaktif, layanan komputer dan piranti lunak serta penelitian dan pengembangan, serta rencana penambahan subsektor kuliner.
Musik K-Pop dengan penampilan artisnya membawa efek domino bagi perekonomian Korea. Situs kompas.com (15/1/2012) memberitakan saat ini sederet butik kosmetik Korea merangsek masuk ke Indonesia, toko roti dan jaringan hypermarket Korea mulai tumbuh di Jakarta, produk otomotif dan gadget Korea mulai mengepung kehidupan kita.
Bahkan, “kampung” Korea juga tumbuh lengkap dengan fasilitas seperti bank, klinik, salon, restoran, hotel, tempat indekos, supermarket dan toko perlengkapan golf Korea di Jalan Senayan, Jakarta, serta Ruko Pinangsia Office Park, Karawaci, Banten. Berdasarkan data Pusat Kebudayaan Korea di Indonesia, saat ini ada 1.300 kantor cabang perusahaan Korea yang didirikan di Indonesia.

Potensi Indonesia
Bukankah Indonesia memiliki potensi untuk terjun dalam ranah budaya populer seperti yang dilakukan Korea? Tinggal bagaimana dukungan pemerintah kita dan manajemen industri musik menyulap industri kreatif Indonesia. Karakter identitas budaya Indonesia yang seharusnya mendarah daging pada para pemuda menjadi pekerjaan rumah tersendiri dalam rangka meluncurkan soft power Indonesia di karpet internasional.
Dunia hiburan kita masih belum maksimal menjadi soft power baru dalam pergaulan negara-negara di dunia selama kita masih mengecap budaya latah dan menjadi imitasi hasil infiltrasi negara lain. Mengikuti penambang lain yang sudah lebih dahulu mengenal medan merupakan perkara logis. Tidak salah jika kaum muda Indonesia berkeinginan fokus pada hal yang serupa dengan K-Pop.
Kita harus mulai bangkit dengan kemungkinan mendapatkan emas yang lebih besar dibandingkan yang diperoleh penambang sebelumnya. Meminjam pendekatan pemasaran, diferensiasi menjadi faktor unik dan nilai tambah untuk menarik perhatian konsumen industri kreatif Indonesia. Mengutip dimensi diferensiasi dari Hermawan Kartajaya, jika anak bangsa ingin populer layaknya boyband dan girlband Korea, mereka perlu memenuhi dimensi konteks, konten dan infrastruktur.
Pertama, dari sisi konten industri musik harus mampu menawarkan bagian tangible produk musiknya seperti gaya ketimuran yang patut kita bawa ke kancah internasional. Kedua, sisi konteks menawarkan nilai pada para penikmat produk budaya Indonesia.
Penyelenggaraan festival Indonesia di beberapa negara dengan menyajikan pertunjukan seni budaya, kuliner, serta berbagai produk/barang Indonesia yang dijual dapat membangun komunitas penikmat budaya Indonesia yang loyal. Ketiga, sisi insfratruktur menunjuk pada kapabilitas sumber daya manusianya.

Read more »

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About

Blog Archive

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format